VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Christina Aryani menyatakan Kementerian P2MI memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menyiapkan calon pekerja migran sektor pertanian, khususnya bagi pasar kerja Jepang.
Christina memimpin dialog daring bersama Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Idha Widi Arsanti, Rabu (30/9/2026).
“Yang kita dorong bukan hanya bagaimana membuka peluang kerja di luar negeri, tetapi bagaimana kita menyiapkan calon pekerja migran yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan begitu, mereka memiliki kompetensi yang dibutuhkan, memahami budaya kerja negara tujuan, dan dapat bekerja secara aman serta terlindungi,” ungkap Christina.
Ia menyebut peluang di sektor pertanian harus diikuti penyiapan tenaga kerja yang terampil. Calon pekerja juga perlu menguasai bahasa, memahami budaya kerja, dan memiliki sertifikasi sesuai kebutuhan negara tujuan.
Christina menilai pengalaman BPPSDMP menjadi modal penting memperluas kolaborasi. Kebutuhan tenaga kerja pertanian di sejumlah negara tujuan juga meningkat.
“Kebutuhan tenaga kerja sektor pertanian di luar negeri cukup besar. Ada sekitar 3.878 peluang kerja yang tersedia di berbagai negara, termasuk Malaysia, Taiwan, serta sejumlah negara di Eropa,” katanya.
Ia menyatakan kebutuhan itu perlu disiapkan dan diintegrasikan sejak dari dalam negeri. Koordinasi dengan Kementan menyasar pemenuhan tenaga kerja sesuai kompetensi dan persyaratan penempatan di Jepang, Taiwan, Malaysia, Bulgaria, dan Kroasia.
“Kami akan mengembangkan proyek percontohan penyiapan dan penempatan pekerja pertanian ke luar negeri. Mulai dari identifikasi kebutuhan tenaga kerja, rekrutmen, pelatihan, penguasaan bahasa, sertifikasi, hingga penempatan. Nantinya lembaga pendidikan dan pelatihan pertanian menjadi pusat penyiapan talenta sebelum calon pekerja menjalani proses penempatan,” pungkasnya.
Dalam pertemuan itu, BPPSDMP memaparkan program pelatihan pertanian yang berjalan. Program tersebut termasuk penempatan ratusan lulusan sektor pertanian melalui skema Specified Skilled Worker (SSW).



























