VOICEINDONESIA.CO, Batam - Indonesia menghadapi situasi darurat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang mengincar ribuan warga. Hal ini terungkap dalam Seminar Nasional Pendekatan Holistik Penanganan dan Pencegahan TPPO yang digelar oleh Stella Maris Batam dan didukung oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama (Kemenag), Rabu (26/11/2025).
Ketua Panitia Pater Ansensius Guntur atau yang akrab disapa Romo Yance menegaskan urgensi penanganan masalah ini dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, lembaga penegak hukum, tokoh agama, serikat pekerja, hingga perusahaan pengirim tenaga kerja.
"Indonesia sekarang darurat human trafficking karena banyak anak bangsa yang menjadi korban TPPO," ujarnya.
Baca Juga:
Tantangan Pencegahan TPPO Berat, Peran Pemuka Agama Jadi Kunci
Romi Yance menjelaskan seminar bertujuan memperkuat koordinasi antar institusi dalam upaya penanganan dan pencegahan TPPO. Kegiatan ini juga diharapkan melahirkan rekomendasi konkret untuk melindungi martabat seluruh warga Indonesia dari ancaman perdagangan manusia.
"Tindak pidana perdagangan orang adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Karena itu kita semua diajak untuk menangani dan mencegah isu ini agar martabat manusia dilindungi," tegasnya mengutip pernyataan Paus Fransiskus.
Baca Juga:
Kepri Jadi Titik Transit Utama TPPO: Sinkronisasi Data Antarinstansi Kunci Pengetatan Jalur Ilegal
Seminar menghadirkan narasumber dari Kementerian Agama yang diwakili Dirjen Bimas Katolik Dr. Randus Suparman, Kementerian HAM melalui Staf Ahli Prof. Dr. Rumadi Ahmad, dan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI).
Hadir pula Ombudsman RI Robert Na Endi Jaweng dan Brigjen Polisi Dr. Nurul Aziza dari Bareskrim Polri. Turut hadir tokoh agama dari berbagai denominasi, serikat pekerja, hingga perusahaan penempatan tenaga kerja.
Uskup Keuskupan Pangkal Pinang Monsenyor Prof. Dr. Adrianus Sunarko melalui video menyampaikan pentingnya kolaborasi semua pihak berkehendak baik untuk membantu korban dan mencegah munculnya korban baru.
"Gereja Katolik menganggap tantangan ini sungguh besar, oleh karena itu mengajak semua pihak yang berkehendak baik untuk saling bekerjasama mencari jalan-jalan untuk membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban," katanya.
Romo Yance menyampaikan kegiatan yang didukung anggaran dari Bimas Katolik Kementerian Agama ini merupakan jawaban atas keresahan umat akan bahaya TPPO demi mendapatkan solusi yang baik dalam penanganan dan pencegahannya.
Dirjen Bimas Katolik Dr. Ando Suparman yang mewakili Menteri Agama pada Rabu (26/11/2025) menekankan perlunya aksi nyata, bukan sekadar seminar.
"Umat sedang menunggu aksi kita, jadi umat tidak menunggu seminar melulu. Kalau bisa seminar ini besok sudah menghasilkan apa yang akan kita kerjakan, aksi apa yang akan kita lakukan," katanya.