VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Nasib naas menimpa Cristina Dian Bara (36), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Waikabubak, Nusa Tenggara Timur (NTT). Diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Cristina saat ini terjebak di Irak dalam kondisi sakit dan mendapatkan perlakuan kerja yang tidak manusiawi.
Berdasarkan dokumen paspor, wanita kelahiran 9 April 1990 ini diberangkatkan dari Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta menuju Oman, sebelum akhirnya diterbangkan ke Irak. Di sana, ia dipekerjakan tanpa adanya kontrak kerja resmi serta dokumen paspor miliknya ditahan oleh pihak agensi.
Melalui pesan singkat yang dikonfirmasi pada Selasa (04/08/2026) sore, Cristina mengungkapkan kondisi memprihatinkan yang dialaminya sehari-hari.
"Kerja hampir 20 jam setiap hari... Sy (saya/red) hanya ingin pulang pak, Saya tidak sanggup lagi bekerja Disni," ungkap Cristina dalam rincian pesannya.
Kondisi berat tersebut dipertegas kembali oleh Cristina melalui rekaman pesan suara mengenai minimnya waktu istirahat yang ia dapatkan selama bekerja di sana.
"Assalamualaikum. Selamat sore untuk waktu Irak.Kesehatan saya sudah benar-benar tidak bisa lagi dipaksakan untuk bekerja. Dikarenakan di sini jam istirahatnya sangat-sangat minim. Untuk istirahat siangnya itu tidak ada, istirahatnya itu cuma saat malam,” kata Cristina Dian Bara melalui pesan suara ke redaksi VOICEIndonesia.co pada Selasa (04/08/2026).
“Jadi di sini, kalau anak-anak itu tidak sekolah, aktivitasnya mulai dari jam 09.30, paling lambat jam 10.00 sudah mulai aktivitas. Masuk kamarnya itu kalau bukan jam 02.00 subuh, jam 03.00 subuh, kurang lebih seperti itu. Kalau anak-anak sekolah, kadang jam 12.00 malam, jam 12.30, bangunnya itu jam 06.30.,” ungkap Cristina.
Selain beban kerja yang eksploitatif, Cristina mengaku tidak memiliki akses penuh untuk melarikan diri karena ketatnya pengawasan. Situasi kian memburuk lantaran kondisi kesehatannya yang terus menurun.
"Skrng karna majikan tdk da sy bisa bebas pakai hp... Dan skrngpun sy sedang sakit... Dari semalam demam... Batuk pilek...," tulisnya menuturkan kondisi kesehatan terkini.
Tak hanya mengidap penyakit akut harian seperti demam, jam kerja yang ekstrem ini turut memicu rasa sakit pada bekas operasi tumor yang pernah dianjalankannya di masa lalu.
“Dikarenakan pekerjaan di sini sangat amat berat, dan saya juga pernah operasi tumor payudara dua kali operasi dan kalau sudah capek, saya malam itu kadang susah sekali tidur karena bekas operasi ini pasti kambuh. Sakit, kadang sesak. Kesehatan saya benar-benar tidak baik. Karena saya takut saya kenapa-kenapa, saya tidak mau mati di sini, Pak. Saya siap menanggung biaya tiket pulang dan denda imigrasi saya siap bayar. Intinya saya bisa pulang dengan selamat, itu saja, Pak.,” ujar Cristina.
Tak hanya dieksploitasi secara fisik, korban juga ditengarai menjadi sasaran pemerasan oleh pihak sponsor di Indonesia bernama DS (Pak D). Korban tercatat sempat mentransfer uang sebesar Rp2.200.000,- sebagai biaya pengganti (DP fee), namun sponsor justru kembali meminta uang tambahan sebesar Rp12.000.000,- sebelum akhirnya memutuskan kontak.
"Saya dipekerjakan tanpa kontrak dan sy kalau bisa kabur saya udah kabur... Tapi ngak bisa, dsni ketat sekali... Sponsor udah ganti nomer lagi," tambah Cristina.
Upaya penyelamatan dan pencarian jalan keluar dari rumah majikan pun menemui jalan buntu akibat ketatnya penjagaan di kawasan tempat ia bekerja.
“Besar harapan saya, Pak, agar saya bisa pulang. Saya sudah mencoba meminta bantuan agar saya bisa pulang. Dikarenakan pengaturan negara Irak ini sangat ketat, jadi pihak KBRI tidak bisa datang ke rumah majikan untuk mengambil saya,” harap Cristina.
“Dan saya pun juga kalau mau kabur keluar dari sini tuh sangat amat susah. Di sini kompleksnya benar-benar sangat ketat, penjagaannya benar-benar sangat ketat. Di sini juga jam istirahatnya sangat amat minim, makanannya juga ya seperti itu,” ujar Cristina.
“Karena saya tidak ingin saya kenapa-kenapa, saya sampai membeli makanan sendiri, stok makanan sendiri, snack, Indomie, Nescafé, cemilan, biar kesehatan saya ini tidak terganggu sambil menunggu semoga ada harapan, ada jalan keluar agar saya bisa cepat kembali pulang ke Indonesia,” harap Cristina
Pihak penanggung jawab agensi di Muscat, Oman, yang sempat dihubungi korban pun belum memberikan kepastian pemulangan. Sementara itu, pihak keluarga dan korban mengaku telah melaporkan kasus ini ke Kepolisian di Indonesia serta mengajukan permohonan bantuan ke KBRI di Irak.
Korban berharap Pemerintah Indonesia, Kementerian Luar Negeri, serta KBRI Irak dapat segera mengambil langkah tegas untuk menyelamatkan, memberikan bantuan medis, dan memfasilitasi pemulangannya ke tanah air.(as/red)


















