
BKKBN Paparkan Alasan Stunting Dapat Meningkatkan Risiko Tuberkulosis

VOICEIndonesia.co, Jakarta - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memaparkan alasan mengapa stunting dapat meningkatkan risiko terjangkit tuberkulosis atau TBC.
“Stunting dapat meningkatkan risiko TBC aktif karena imunitas yang menurun akibat masalah gizi, sedangkan TBC yang tidak segera diobati dapat mempengaruhi pertumbuhan anak dan bisa menyebabkan stunting. Penurunan nafsu makan pada anak yang terinfeksi TBC juga dapat menyebabkan tidak tercukupinya gizi anak untuk tumbuh dan berkembang”, kata Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Nopian Andusti dalam keterangan resmi di Jakarta, dilansir dari ANTARA, Sabtu, (28/9).
Ia menyampaikan hal tersebut dalam Kelas Orang Tua Hebat (Kerabat) seri kesembilan tahun 2024 dengan tema “Kenali dan Cegah Tuberkulosis (TBC) pada Anak Usia Dini” yang dilaksanakan secara hybrid pada Kamis (26/9).
Nopian menyebutkan, Indonesia termasuk delapan besar negara yang menyumbang kasus TBC terbesar.
Baca Juga: Gelar Kongres Nasional, SPPI Berkomitmen Perkuat Sektor Perikanan
“Indonesia termasuk delapan negara yang menyumbang 2/3 kasus TBC di seluruh dunia. Hasil survei tertulis tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi TBC paru berdasarkan kelompok umur di bawah satu tahun yaitu 0,08 persen, umur 1-4 tahun 0,42 persen, dan kelompok 5-12 tahun 0,18 persen,” ujar dia.
Menurut dia, edukasi dini terkait TBC juga sangat penting, utamanya kepada orang tua melalui kader Bina Keluarga Balita (BKB).
“Melalui kelas orang tua hebat, semoga dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman orang tua, kader BKB dan peserta mengenai penyakit tuberkulosis dan pencegahannya pada anak usia dini, karena TB dan stunting merupakan masalah kesehatan yang saling berkaitan,” ucapnya.
Sementara itu, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi yang juga pernah menjabat sebagai Kepala BKKBN tahun 2019-2024 Hasto Wardoyo mengatakan, peningkatan kasus TBC di tahun 2022 meningkat drastis, sehingga ia menekankan pentingnya vaksin Bacillus Calmette Guérin (BCG) yang diberikan pada anak sebelum usia satu bulan untuk mencegah penyakit tersebut.
Baca Juga: Badai Helene Tewaskan 26 orang di Amerika Serikat
“Naiknya kasus TBC di tahun 2022 setelah pandemi itu sangat pesat. TBC kalau pada balita itu cukup serius karena akan mengganggu pertumbuhan, sekaligus otak juga akan terganggu perkembangannya,” kata Hasto.
Ia juga menyoroti pentingnya orang tua memahami TBC resisten obat.
“Hari ini ada TBC yang resisten obat, ibu-ibu semua hati-hati, betul vaksin itu penting sekali, begitu lahir anak divaksin untuk mencegah kejadian TBC karena TBC meningkat terus, kemudian ada TBC yang jenis baru, kebal terhadap obat. Jadi kalau TBC itu kebal terhadap obat, maka dikasih obat apa saja ya tidak mempan,” tuturnya.
Hasto juga menyampaikan pentingnya memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan lingkungan karena TBC juga disebabkan oleh rumah yang kumuh.
“Jadi, rumah-rumah yang kumuh dan kurang ventilasi dan lembab itu kemudian mereka cepat sekali (penularannya), bisa kalau satu ada yang kena TBC, kemudian juga menular kepada yang lain,” paparnya.
Untuk diketahui, anak-anak di bawah umur lima tahun termasuk kelompok yang rentan terkena TBC. Berdasarkan data Kemenkes, ada 100.726 anak di Indonesia yang terjangkit TBC pada tahun 2022. Jumlah tersebut merupakan anak berusia 0-14 tahun. Secara rinci, ada 57.024 anak yang terkena TBC berusia 0-4 tahun.*
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



