
Kemendikbud sebut pentingnya pangan lokal hapus ketergantungan beras

VOICEIndonesia.co, Jakarta - Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Sjamsul Hadi menyebut pentingnya peningkatan konsumsi pangan lokal untuk menghapus ketergantungan masyarakat terhadap beras dan tepung.
"Sebagai contoh, masyarakat di daerah timur bisa mengonsumsi sagu atau sorgum seperti leluhur mereka, tidak harus ikut-ikutan selalu makan beras seperti masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa pun punya sumber karbohidrat selain beras seperti singkong, jagung, dan umbi-umbian lainnya," katanya dalam diskusi Forum Bumi di Jakarta, Kamis (10/10/2024).
Ia menjelaskan, dampak negatif yang dirasakan akibat pergeseran pola konsumsi ke beras dan terigu yakni meningkatkan ketergantungan Indonesia terhadap pangan dari impor. Selain itu, masyarakat lokal di pulau-pulau kecil juga harus membayar beras lebih mahal.
Baca Juga: Imigrasi Surabaya deportasi seorang WNA Pakistan
"Sebagai contoh, menurut data Badan Pangan Nasional pada 2023, harga eceran beras premium di Jawa adalah sekitar Rp15 ribu per kilogram, tetapi harga beras yang sama itu sudah menjadi Rp17 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram di tiga wilayah kepulauan, yakni Nusa Tenggara Timur, Wakatobi, dan Mentawai," ujar dia.
Dilansir dari ANTARA, Menurut Sjamsul, sistem pangan Indonesia harus berbasis pada keberagaman Nusantara, termasuk sumber hayati dan budaya pangan di tanah air yang melimpah, di mana masyarakat lokal di masing-masing daerah memiliki kebudayaan dan sumber pangan lokal masing-masing yang harus dilestarikan untuk menjaga keragaman pangan nasional.
Ia juga menyayangkan adanya anggapan bias dari masyarakat Indonesia bahwa makanan pokok harus nasi atau terbuat dari beras.
Berdasarkan data historis sejak tahun 1954, kebutuhan beras sebagai sumber karbohidrat di Indonesia yang semula 53,5 persen, pada tahun 2017 naik menjadi 74,6 persen.
Baca Juga: Baznas Ungkap Perannya Menangani Krisis Kemanusiaan Global
Selain itu, kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap gandum (bahan tepung terigu) sebagai sumber karbohidrat juga meningkat pesat, dari 5 persen pada tahun 1954 menjadi 25,4 persen pada tahun 2017, dan semakin meningkat menjadi 28 persen pada 2022.
"Sebenarnya Indonesia ini sangat kaya sekali, terdapat 72 varietas sumber karbohidrat, dan juga kacang-kacangan mencapai 100 varietas dan juga 450 varietas buah-buahan. Nah, ini sebenarnya adalah momen untuk membudayakan kembali, untuk kembali ke pangan lokal," jelas Sjamsul.
Forum Bumi kedua digelar oleh Yayasan KEHATI bersama National Geographic Indonesia dengan tema "Bagaimana Masa Depan Ketahanan dan Keanekaragaman Pangan Indonesia?" yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memanfaatkan pangan lokal di daerah masing-masing.*
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



