
Pemerintah Genjot Digitalisasi Layanan Penempatan Kerja

VOICEINDONESIA.CO, Yogyakarta – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Kemen P2MI) melalui Direktorat Penempatan Pemerintah menggelar Forum Group Discussion (FGD) Edukasi Layanan Penempatan Pemerintah di Hotel Alana, Yogyakarta, pada 27–30 Oktober 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh Kepala BP3MI dan P4MI dari seluruh Indonesia, serta perwakilan Dinas Tenaga Kerja dari berbagai provinsi, seperti Bali, Deli Serdang, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat, dan Lampung Timur.
Sejumlah peserta dari unit kerja di lingkungan Kemen P2MI turut hadir secara langsung maupun daring.
Baca Juga: Masyarakat Diminta Bijak Manfaatkan BansosDirektur Jenderal Penempatan Kemen P2MI Ahnas menegaskan pentingnya sistem penempatan yang prosedural dan terkoordinasi sebagai kunci pelindungan pekerja migran Indonesia.
“Penempatan prosedural adalah tanggung jawab bersama. Karena itu, kami mendorong edukasi pra-pendaftaran yang melibatkan pemangku kepentingan hingga ke tingkat desa,” ujar Ahnas, Selasa (28/10/2025).
Ia menambahkan, tata kelola penempatan harus dimaksimalkan melalui transformasi digital yang terintegrasi, agar layanan penempatan pemerintah menjadi contoh terbaik.
Baca Juga: Kepala Sekolah Rakyat Wajib Punya 5 Kompetensi Ini“Yang tadinya rumit harus kita permudah, mulai dari Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP), pelatihan bahasa, hingga sertifikasi yang relevan,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Penempatan Pemerintah Dyah Rejekiningrum menuturkan, program Government to Government (G to G) terus digencarkan untuk memperluas peluang bagi pekerja migran Indonesia yang terampil dan tersertifikasi.
Dyah juga mengapresiasi peran lembaga pendidikan, terutama Politeknik Kesehatan (Poltekkes), yang telah memasukkan kurikulum Bahasa Jerman dan Jepang guna mendukung penempatan tenaga kesehatan ke luar negeri.
“Kami berharap dukungan pendidikan vokasi terus diperkuat agar penempatan pemerintah semakin kompetitif,” ujarnya.
Saat ini, jumlah penempatan melalui skema pemerintah masih relatif kecil dibandingkan sektor lain.
Namun, Kemen P2MI optimistis jumlah tersebut akan terus meningkat seiring penguatan pelatihan, sertifikasi, dan sinergi lintas lembaga.
FGD ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk menyatukan langkah strategis dalam mewujudkan penempatan pekerja migran yang aman, terampil, dan bermartabat.
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



