
Penjualan di Tanah Abang Sepi, Pejabat Gubernur DKI Tawarkan Pelatihan Digital

VoiceIndonesia.co - Viral di media sosial, pusat grosir Tanah Abang yang dulunya ramai dikunjungi pembeli, kini menjadi sepi.
Salah satu pemilik toko baju bernama Ema merasa sedih lantaran toko yang sudah ia buka sejak tujuh tahun yang lalu kini hanya mampu menjual sehelai baju dalam sehari.
Dengan penjualan yang menurun, ia juga masih harus mengeluarkan biaya untuk toko dan gaji karyawan.
"Semua pedagang nih mengeluh, jadi ga laris, kita mengharapkan dari toko, gaji karyawan, biaya toko servis lampu harus dibayar," kata Ema dilansir dari akun TikTok Fokus Indosiar, Minggu 17 September 2023.
Diketahui, sebagaian toko di Tanah Abang yang memilih untuk tutup. Namun ada juga yang memilih untuk ikut membuka lapak di toko daring.
Menurut Pejabat Gubenur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menyebut, bahwa sepinya Tanah Abang akibat adanya perubahan cara berbelanja konsumen.
Jika dulu konsumen harus pergi untuk membeli suatu produk. Kini dari rumah, konsumen sudah bisa mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.
"Yang pertama itu mungkin adalah bagian dari perubahan konsumen untuk membeli seuatu kan. Di sini sudah ada online dan lain-lain, dan kita semua juga harus mencermati itu," kata Heru, dilansir dari ANTARA.
📖 Baca Juga ↗Diduga Jadi Pengiriman PMI Nonprosedural, Imah Minta Dipulangkan ke IndonesiaMenurut Heru perubahan cara belanja yang membuat sepi pasar konvensional tidak hanya terjadi di Indonesia saja, bahkan sampai di luar negeri.
"Tidak hanya di sini aja kok. Di tempat lain, di luar negeri juga ada perubahan warga, konsumen membeli dengan konsep online," jelas Heru.
Heru pun menegaskan bahwa pemerintah dapat memberikan pelatihan digitalisasi kepada pedagang Pasar Tanah Abang agar penjualannya dapat meningkat.
Di sisi lain, para pedagang Tanah Abang mengaku perang harga yang ditawarkan melalui "live shopping" di sejumlah platform media sosial membuat penjualan berkurang signifikan.
Mereka berupaya mengikuti cara berjualan dengan cara yang sama, yakni melalui "live shopping", seperti yang dilakukan selebgram.
Namun, hal tersebut tidak membuahkan hasil. Akibatnya, biaya operasional pedagang lebih tinggi daripada pemasukan sehingga berdampak pada pihak sekitar, seperti pegawai, porter hingga pedagang makanan di Tanah Abang yang turut menghadapi sepinya pembeli.
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



