
Perhitungan UMP Diklaim Tidak Berpihak ke Pelaku Usaha

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta - Kalangan dunia usaha menilai penetapan rentang nilai alpha (α) sebesar 0,5 hingga 0,9 dalam Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pengupahan belum sejalan dengan ekspektasi dan kondisi riil pelaku usaha.
Rentang tersebut dinilai berpotensi memberatkan keberlanjutan usaha di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta W. Kamdani mengatakan, sepanjang proses dialog sosial tripartit, dunia usaha secara konsisten telah menyampaikan masukan berbasis data kepada pemerintah, baik melalui Dewan Pengupahan Nasional (Depenas) maupun lewat surat resmi kepada Kementerian Ketenagakerjaan.
“Dalam forum tersebut, dunia usaha mengusulkan agar nilai alpha (α) berada pada kisaran 0,1 hingga 0,5, dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan hidup layak (KHL) dan kemampuan riil dunia usaha,” ujar Shinta di Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Baca Juga: KPK Unggkap Dugaan Pemerasan Sertifikat K3 di Kemnaker Capai Rp201 MiliarMenurut Shinta, dalam pembahasan di Depenas, dunia usaha juga mendorong agar penerapan nilai alpha dilakukan secara hati-hati dan proporsional, dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing daerah.
Ia menjelaskan, untuk daerah dengan rasio upah minimum yang sudah berada di atas KHL, dunia usaha mengusulkan penggunaan rentang alpha 0,1 hingga 0,3.
Sementara itu, bagi daerah dengan rasio upah minimum yang masih di bawah KHL, nilai alpha dapat digunakan lebih tinggi, yakni 0,3 hingga 0,5.
“Pendekatan ini penting untuk menghindari disparitas antarwilayah yang semakin meruncing,” jelasnya.
Baca Juga: Dinilai Ancam Hutan dan Wilayah Adat, Masyarakat Papua Tolak PSN di MeraukeShinta menambahkan, usulan tersebut disampaikan dengan mempertimbangkan kondisi dunia usaha yang hingga kini masih menghadapi tekanan, mulai dari perlambatan ekonomi global, kenaikan biaya produksi, hingga tantangan keberlanjutan investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Diketahui, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sebelumnya meminta para gubernur untuk menetapkan besaran kenaikan upah minimum paling lambat 24 Desember 2025, sebagaimana disampaikan pada Rabu (17/12/2025).
Dalam Peraturan Pemerintah tentang Pengupahan yang terbaru, juga diatur bahwa gubernur wajib menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan dapat menetapkan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) sesuai dengan ketentuan dan mekanisme yang berlaku.
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



