
Ditreskumum Polda NTB Ringkus Tiga Tersangka Kasus TPPO Tujuan Taiwan

Jakarta – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskumum) Polda NTB meringkus sebanyak tiga orang asal Kota Mataram yang berinisial RD, S dan J. Pelaku ditangkap akibat kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) tujuan negara Taiwan.
Teddy Ristiawan, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda NTB Kombes menjelaskan para pelaku memiliki peran masing-masing. Pria RD berperan sebagai kepala Cabang PT PSM yang melakukan proses penempatan calon pekerja migran Indonesia (PMI) secara non prosedural ke Negara Taiwan. Sementara itu, S dan J berperan sebagai pekerja lapangan atau perekrut di wilayah Mataram dan Lombok Utara.
Teddy mengatakan, setelah sepuluh tahun kasus TPPO baru terungkap karena korbannya mengeluh tidak ada kepastian untuk diberangkatkan oleh perusahaan tersebut.
"Pengungkapan diawali dengan adanya pengaduan dari 53 CPMI (calon pekerja imigran Indonesia) yang merasa dirugikan oleh PT PSM karena lebih dari 1 tahun tidak juga diberangkatkan sebagai PMI ke Negara Taiwan," kata Teddy dalam jumpa pers, Rabu (6/9/2023).
Dari hasil penelusuran, kepolisian kemudian menemukan dugaan tindak pidana TPPO yang dilakukan oleh perusahaan, yakni tidak memiliki Surat Izin Perekrutan Pekerja migran Indonesia (SIP2MI) dan job order.
"Perusahaan ini tidak didukung dengan administrasi berupa SIP2MI dan job order. Proses perekrutannya juga tidak sesuai dengan kompetensi sehingga proses pendaftaran CPMI ditolak sistem," kata Teddy. Selain itu pihak perusahaan juga menarik uang ke pada korban dengan nilai puluhan juta rupiah. Angka tersebut melebihi aturan yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia.
"Pelaku juga membebankan biaya masing-masing sejumlah Rp 10 juta sampai dengan 40 juta, di mana hal tersebut bertentangan dengan Peraturan Kepala BP2MI Nomor 785 tahun 2022 tentang Biaya Penempatan Migran Indonesia yang ditempatkan oleh perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia kepada pemberi kerja berbadan hukum di Taiwan," kata Teddy.
Baca Juga: Wamen BUMN Ungkap Indonesia Alami Revolusi Keuangan Digital
Sejak Januari sampai dengan Mei 2022 terdapat 132 calon PMI bermasalah yang direkrut oleh PT PSM dengan total uang yang disetorkan calon pekerja sebesar Rp 1,9 miliar.
Para pelaku diancam pasal 10 dan atau Pasal 11 Jo Pasal 4 yaitu melakukan percobaan atau merencanakan TPPO sebagaimana diatur dalam UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang TPPO dengan ancaman hukuman pidana penjara paling singkaat 3 tahun dan paling lama 15 tahun penjara dan atau Pasal 83 Jo Pasal 68 Jo Pasal 5 atau Pasal 86 Jo Pasal 72 yaitu penempatan PMI secara Non prosedural sebagaimana diatur dalam UU RI Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 penjara.
Pilihan Redaksi
ImigrasiBantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

BNN Jatim Gagalkan Penyelundupan 5,4 Kilogram Sabu dari Malaysia
Daerah

Selat Hormuz Tetap Ditutup Sebelum AS Terima Syarat dari Iran
Internasional

Bansos Bakal Disalurkan Lewat Kopdes
Ekonomi

RI Usul Keterampilan Masa Depan Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama BRICS
Ketenagakerjaan

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani
Imigrasi
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



