VOICEINDONESIA.CO, Surabaya – Ratusan demonstran yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat mulai memadati Jalan Gubernur Suryo sekitar pukul 15.30 WIB. Mereka bergantian menyampaikan orasi membawa spanduk dan poster berisi kritik terhadap pemerintah.
Kericuhan mulai terjadi sekitar pukul 18.30 WIB setelah massa tidak juga memperoleh kesempatan berdialog dengan pihak pemerintah. Sejumlah peserta aksi membakar tumpukan sampah di tengah jalan, sementara sebagian lainnya menyalakan petasan dan melempar batu, botol, serta benda keras ke arah kompleks Gedung Grahadi.
Merespons situasi tersebut, aparat kepolisian memperketat pengamanan. Polisi berkali-kali mengimbau massa agar menghentikan tindakan anarkis dan membubarkan diri, namun imbauan itu tidak dihiraukan.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Lutfhie Sulistiawan, yang memimpin pengamanan, meminta massa segera meninggalkan lokasi.
"Mohon untuk massa segera membubarkan diri," serunya melalui pengeras suara.
Karena massa tetap bertahan, personel Dalmas melakukan pendorongan secara bertahap hingga demonstran berlarian meninggalkan lokasi. Polisi juga menyiagakan mobil water cannon sebagai antisipasi apabila kericuhan semakin meningkat.
Pengamanan dilakukan secara berlapis selama proses pembubaran. Polisi mengawal massa hingga bergeser ke kawasan Balai Pemuda atau Alun-alun Surabaya, sekaligus melakukan pengaturan lalu lintas dan penyisiran lokasi untuk memastikan situasi kembali kondusif.
Sebelum kericuhan pecah, massa sebenarnya menyampaikan berbagai kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat. Mereka juga menuntut adanya dialog langsung dengan perwakilan pemerintah di dalam Gedung Grahadi, namun tuntutan tersebut tidak terpenuhi hingga aksi berubah ricuh.(fsm)



























