VOICE Indonesia
News

Tak Lagi Rebut Kapal, Manusia Kini Jadi Komoditas Negosiasi Pembajakan Teluk Guinea

Sintia Nur Afifah - VOICEIndonesia.co
Tak Lagi Rebut Kapal, Manusia Kini Jadi Komoditas Negosiasi Pembajakan Teluk Guinea
Tak Lagi Rebut Kapal, Manusia Kini Jadi Komoditas Negosiasi Pembajakan Teluk Guinea
VOICEINDONESIA.CO, Jakarta - Para pelaku pembajakan di perairan Teluk Guinea tidak lagi berorientasi pada penguasaan kapal atau muatan, tetapi memperlakukan manusia sebagai komoditas negosiasi. Akademisi Maritim, Marcellus Hakeng Jayawibawa mengungkap kejahatan ini merupakan operasi kriminal terorganisir dengan tingkat kekerasan tinggi. Marcellus menilai tingkat risiko keamanan pelayaran di perairan Teluk Guinea khususnya sekitar Gabon masih tergolong tinggi meskipun statistik insiden pembajakan menunjukkan tren penurunan. Penurunan angka bukan berarti ancaman telah hilang, melainkan menandakan perubahan pola serangan yang semakin terorganisir dan brutal. Teluk Guinea bukan sekadar jalur perdagangan global, tetapi juga arena kontestasi antara kepentingan ekonomi, lemahnya tata kelola pesisir, dan jaringan kriminal bersenjata. "Para pelaku tidak berorientasi pada penguasaan kapal atau muatan, tetapi pada nilai manusia sebagai komoditas negosiasi. Awak kapal asing menjadi target prioritas karena diasumsikan memiliki nilai tawar tinggi," ungkap Marcellus kepada Voiceindonesia, Kamis (15/1/2026). Akademisi tersebut membandingkan karakteristik pembajakan di Teluk Guinea dengan kawasan rawan lainnya. Pembajakan Somalia pada masa puncaknya berlangsung di laut lepas dengan penyanderaan kapal dan kru untuk tebusan besar. Baca Juga : Kemenlu Akui Belum Ketahui Nasib WNI yang Diculik Bajak Laut di Gabon Sementara Selat Malaka lebih didominasi perampokan bersenjata skala kecil di perairan teritorial yang relatif berhasil dikelola lewat kerja sama regional. Teluk Guinea berada di antara keduanya, tetapi dengan ciri khas serangan brutal dan jarak operasi dekat dengan pantai. Model kejahatan ini menjadikan pembajakan di Teluk Guinea lebih menyerupai operasi kriminal terorganisir daripada perompakan konvensional. Tingkat kekerasan yang digunakan pun relatif tinggi dengan intimidasi bersenjata yang menciptakan tekanan psikologis berat. "Kasus penculikan awak kapal, termasuk yang menimpa pelaut Indonesia di perairan Gabon, membuktikan bahwa kawasan ini tetap menjadi ruang rawan bagi kejahatan maritim transnasional," jelasnya. Marcellus menganalisis kelompok bersenjata umumnya memilih kapal dengan karakteristik rentan seperti kecepatan rendah, pengawasan terbatas, dan minim perlindungan keamanan. Serangan mereka dilakukan dengan perhitungan matang untuk memaksimalkan keuntungan. "Serangan dilakukan cepat, agresif, dan terorganisir, lantas memanfaatkan kejutan sebagai kunci keberhasilan," katanya. Baca Juga : 17 ABK WNI Ditahan Malaysia Usai Kapal Tugboat Angkut Bijih Besi Berlabuh Ilegal Fase awal serangan sangat menentukan nasib awak kapal. Dengan kapal cepat dan senjata api, para pelaku menciptakan kepanikan massal sebelum awak sempat mengirim sinyal darurat atau menutup akses internal. "Keberhasilan pembajakan sering ditentukan oleh menit-menit pertama serangan," tegasnya. Setelah kapal berhasil dikuasai, para pelaku biasanya melakukan seleksi sandera secara terukur. Mereka memilih ABK tertentu berdasarkan kewarganegaraan, posisi di kapal, atau asumsi nilai tebusan yang tinggi untuk memaksimalkan keuntungan. Awak lain bisa ditinggalkan karena dianggap tidak menguntungkan, berhasil bersembunyi, atau melarikan diri dalam kekacauan awal. Perbedaan nasib antara tiga anak buah kapal yang berhasil lolos dan sembilan lainnya yang diculik menunjukkan strategi situasional individu dapat menentukan keselamatan. "Fenomena lolosnya sebagian awak kapal memperlihatkan bahwa pelaku tidak selalu mengejar penguasaan total kapal, melainkan mengejar keuntungan maksimal dengan risiko minimal," ungkapnya. Marcellus menekankan pentingnya menghindari konfrontasi langsung dengan kelompok bersenjata saat serangan terjadi. Bagi awak yang tertangkap, ketenangan dan kepatuhan sementara menjadi strategi bertahan hidup hingga bantuan diplomatik atau operasi pembebasan dilakukan. "Saya juga menekankan pentingnya menghindari konfrontasi langsung dengan kelompok bersenjata, karena mereka umumnya bertindak agresif dan bersenjata lengkap," katanya. Perairan Teluk Guinea termasuk Gabon masih memerlukan kewaspadaan tinggi dari komunitas internasional. Pola pembajakan yang berfokus pada penculikan awak kapal dengan kekerasan tinggi menjadikannya ancaman unik dalam lanskap keamanan maritim global. "Bagi negara pengguna jalur pelayaran internasional, termasuk Indonesia, kawasan ini menjadi pengingat bahwa keamanan laut bukan hanya isu regional, tetapi tanggung jawab kolektif untuk menjaga laut tetap menjadi ruang perdagangan dan peradaban, bukan panggung kriminalitas bersenjata," pungkasnya. (Sin/Ah) Pilihan Redaksi : PR Sistemik: Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Harus Direformasi Total

Pilihan Redaksi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus RuhyaniImigrasi

Bantah Maladministrasi, Imigrasi Karawang Jelaskan Kasus Ruhyani

VOICE Indonesia· 16 July 2026
#ABK#Marcellus#Pembajakan
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.