VOICEINDONESIA.CO, Surabaya – Korban dugaan keracunan massal dalam kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) di RSU dr Soetomo Surabaya bertambah menjadi 178 orang.
Mereka terdiri dari peserta Pradik PPDS dan pegawai kebersihan RSU dr Soetomo. Para korban mengalami sejumlah gejala setelah menyantap nasi kotak yang dibagikan saat kegiatan di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu (GPDT) lantai 7, Senin (28/9).
Kepala Bagian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) RSU dr Soetomo, dr Astindari, mengatakan makanan untuk peserta tiba di rumah sakit sekitar pukul 09.00 WIB. Konsumsi tersebut kemudian dibawa ke GPDT lantai 2 sebelum dinaikkan ke lantai 7 pada pukul 09.15 WIB. Sekitar pukul 09.30 WIB, nasi kotak mulai ditata di meja di dalam hall GPDT. Makanan kemudian dibagikan kepada peserta sekitar pukul 11.30 WIB saat waktu istirahat.
“Gejala yang dialami PPDS, onset-nya itu mulai kurang lebih 30 menit sampai 4 jam setelah mengonsumsi makanan tersebut,” kata Astindari dalam konferensi pers di RSU dr Soetomo, Selasa (29/9).
Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa, mengatakan pihak rumah sakit saat ini masih mendalami sumber makanan yang diduga menyebabkan munculnya gejala keracunan.
Dari sejumlah menu dalam nasi kotak, dugaan sementara mengarah pada lauk daging rendang. Dugaan itu muncul setelah pihak rumah sakit mendapatkan informasi bahwa peserta yang tidak mengonsumsi daging, melainkan hanya menyantap telur dan sayur, tidak mengalami gejala.
“Kalau dari kawan-kawan yang vegetarian, yang makan telur dan sayur itu aman. Mungkin pengolahan, tapi kita tentu tidak bisa memastikan sebelum ada hasil lab. Jadi itu hanya dugaan,” ujar Cita.
Meski demikian, pihak rumah sakit belum dapat memastikan rendang sebagai penyebab keracunan. Tidak ada pula laporan dari peserta mengenai adanya aroma tidak sedap atau kondisi basi pada lauk tersebut ketika dikonsumsi. Menurut Cita, kepastian mengenai penyebab kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
RSU dr Soetomo telah mengirimkan sisa makanan dari nasi kotak kegiatan Pradik serta spesimen dari sejumlah pasien yang mengalami gejala ke beberapa laboratorium. Pemeriksaan dilakukan di Puslabfor Polda Jawa Timur, Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Tapi tentu kita tidak bisa memastikan saat ini, menunggu hasil laboratorium,” ujarnya.
Dengan bertambahnya jumlah korban menjadi 178 orang, pihak rumah sakit masih melakukan penanganan terhadap peserta PPDS dan pegawai yang mengalami gejala. Penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut akan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.(joe)



























