VOICEINDONESIA.CO, Malang – Upaya seorang petani menyelamatkan lahan tebu dari kebakaran justru berujung maut. Kusnin, 63, warga Desa Jambearjo, Tajinan, Kabupaten Malang, tewas setelah terjebak di tengah kobaran api yang membakar lahan tebu di Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji.
Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Kamis (10/9) sekitar pukul 10.00 WIB. Api dengan cepat membesar dan merembet ke sejumlah lahan tebu di sekitarnya hingga area yang terbakar diperkirakan mencapai 5 hektare.
Saat dihubungi, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengatakan kebakaran diduga bermula dari pembakaran sisa panen tebu yang dilakukan salah seorang petani.
Situasi berubah menjadi sulit dikendalikan setelah angin bertiup kencang. Api yang awalnya membakar sisa tanaman kemudian merambat ke lahan tebu lainnya.
Saat melihat kobaran api semakin meluas, Kusnin berusaha menghentikan pergerakan api. Ia membuat sekat bakar dengan harapan kobaran api tidak menjalar ke area lainnya.
Namun, angin kencang justru membuat api bergerak cepat. Kusnin akhirnya terjebak di tengah perkebunan tebu yang telah dikepung kobaran api.
“Korban berusaha membuat sekat bakar, tapi karena angin kencang, korban terjebak di tengah kebun tebu,” terang Sadono, Jumat (11/9).
Petugas pemadam kebakaran kemudian melakukan penanganan di lokasi dan berhasil memadamkan api. Namun, lanjut dia, bahwa Kusnin ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
“Jenazah korban selanjutnya dievakuasi dan dibawa ke RSUD Kanjuruhan untuk menjalani visum,” ungkap dia.
Kebakaran tersebut tidak hanya menyebabkan korban jiwa. Lahan tebu seluas kurang lebih lima hektare ikut terbakar. BPBD Kabupaten Malang memperkirakan kerugian material akibat kejadian itu mencapai sekitar Rp 160 juta.
Bahkan, Sadono mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melakukan pembakaran sisa panen, terutama ketika kondisi cuaca disertai angin kencang. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merembet dan membahayakan keselamatan.(joe)



























