VOICE Indonesia
HOT
Ekonomi

Inflasi Oktober 2026 Capai 3,23 Persen, Harga Pangan Jadi Penyumbang Terbesar

Abdulloh Hilmi - VOICEIndonesia.co2 menit baca

Ringkasan Berita

AI
VOICE Indonesia di Google
Stok Beras di Gudang Bulog
Stok Beras di Sentra Penggilingan Padi Bulog Karawang, Jawa Barat.(Foto: VOICEINDONESIA.CO/Hilmi)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi nasional sebesar 3,23 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Oktober 2026. Meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, inflasi masih terkendali dan berada dalam rentang target pemerintah.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan, diikuti kelompok transportasi serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

“Inflasi tahunan pada Oktober 2026 sebesar 3,23 persen masih terkendali dan berada pada rentang target pemerintah. Penyumbang andil inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,40 persen; diikuti kelompok transportasi sebesar 0,59 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,32 persen,” jelas Amalia di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Kenaikan harga sejumlah komoditas turut mendorong inflasi tahunan, antara lain bensin, cabai rawit, ikan segar, emas perhiasan, beras, minyak goreng, tarif angkutan udara, daging ayam ras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), serta nasi dengan lauk.

Di sisi lain, beberapa komoditas memberikan andil sebagai peredam inflasi, yakni telur ayam ras, bawang merah, kelapa, dan kentang.

Dari sisi kewilayahan, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada Oktober 2026. Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi sebesar 8,07 persen, sedangkan DKI Jakarta menjadi provinsi dengan inflasi terendah sebesar 2,52 persen.

Dari total 38 provinsi, sebanyak 26 provinsi mengalami inflasi di atas angka nasional, sementara 12 provinsi lainnya berada di bawah angka nasional.

Amalia menjelaskan bahwa perbedaan tingkat inflasi antardaerah dipengaruhi oleh karakteristik dan dinamika harga komoditas yang berbeda-beda. Oleh karena itu, faktor pendorong inflasi di setiap wilayah tidak selalu sama.

“Perkembangan inflasi di setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga faktor pendorongnya pun tidak selalu sama. Sebagai contoh, di Sulawesi Utara, yang mencatat inflasi tertinggi sebesar 8,07 persen, kenaikan harga terutama didorong oleh cabai rawit, ikan segar, dan tarif angkutan udara. Sementara itu, di Papua Barat, inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan tarif angkutan udara, bensin, dan cabai rawit,” jelas Amalia.

Ia menambahkan, dinamika harga di setiap daerah dapat bergerak berbeda. Di Kalimantan Tengah, misalnya, tarif angkutan udara justru mengalami deflasi atau penurunan harga.

Capaian inflasi Oktober 2026 tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga nasional masih berada dalam rentang target pemerintah. Meski demikian, perkembangan harga pangan, transportasi, dan komoditas strategis tetap menjadi perhatian karena memiliki kontribusi besar terhadap inflasi serta daya beli masyarakat.

Pilihan Redaksi

Mukhtarudin Dorong Perluasan Penempatan PMI Formal Hong KongPekerja Migran Indonesia

Mukhtarudin Dorong Perluasan Penempatan PMI Formal Hong Kong

VOICE Indonesia· 02 November 2026
#Inflasi#BPS#Harga Pangan#Beras
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.