VOICE Indonesia
Ekonomi

RI Jadi Eksportir Minyak Atsiri Terbesar ke-5 Dunia

S Nurafifa - VOICEIndonesia.coEditor: Abdulloh Hilmi2 menit baca
VOICE Indonesia di Google
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang(Foto: Voiceindonesia.co/Kemenprin)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Indonesia tercatat sebagai eksportir minyak atsiri terbesar kelima di dunia pada 2025, di bawah India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil, namun Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menilai industri dalam negeri masih menghadapi tantangan dalam menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi lebih tinggi.

Agus mengungkap capaian tersebut di tengah nilai perdagangan ekspor minyak atsiri dunia yang mencapai sekitar 6,49 miliar dolar AS pada 2025, meningkat dari 6,29 miliar dolar AS pada 2024.

Menperin menyebut minyak nilam atau patchouli oil memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai solusi atas tantangan tersebut, lantaran Indonesia memiliki basis produksi serta pasar ekspor yang kuat.

"Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa produk minyak atsiri Indonesia memiliki daya saing dan permintaan yang kuat di pasar global," ujar Menperin pada Rabu (19/8/2026).

Ia menegaskan momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat industrialisasi sekaligus meningkatkan nilai tambah produk atsiri di dalam negeri, khususnya lewat penguatan hilirisasi minyak nilam yang dinilai memiliki prospek paling menjanjikan.

Data perdagangan mencatat nilai ekspor minyak nilam Indonesia pada 2025 mencapai 173,4 juta dolar AS, meningkat 22,7 persen dibanding 141,3 juta dolar AS pada 2024. Produk tersebut telah menjangkau sejumlah negara, antara lain India, Singapura, Prancis, Spanyol, Amerika Serikat, China, Swiss, Belgia, Belanda, Jerman, Britania Raya, dan Turki.

Sementara itu, kinerja ekspor minyak atsiri Indonesia secara keseluruhan turut menunjukkan tren positif, dengan nilai ekspor produk berkode HS 3301 mencapai 348,7 juta dolar AS pada 2025, naik 34,4 persen dibanding 259,5 juta dolar AS pada 2024.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menjelaskan pengembangan hilirisasi minyak nilam berpotensi menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi lewat teknologi pemurnian dan fraksinasi, seperti hi-grade patchouli, fragrance, antiseptic, medicated oil, dan aromatherapy.

"Dengan penguatan hilirisasi, pemanfaatan minyak nilam dapat diperluas, tidak hanya untuk pasar bahan baku, tetapi juga menjadi input bagi industri parfum, kosmetik, toiletries, farmasi, pestisida, dan aromaterapi," ujar Putu.

Putu menambahkan, pengembangan hilirisasi minyak nilam perlu dilakukan secara terintegrasi dengan memperkuat ekosistem industri dari sektor hulu hingga hilir, mencakup peningkatan kapasitas petani dan penyuling, penguatan kelembagaan seperti koperasi, peningkatan kualitas serta kontinuitas bahan baku, hingga perluasan akses pasar dan pembiayaan.

Ringkasan AI

Jakarta – Indonesia tercatat sebagai eksportir minyak atsiri terbesar kelima di dunia pada 2025, di bawah India, Amerika Serikat, Prancis, dan Brasil, namun Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita menilai industri dalam negeri masih menghadapi tantangan dalam menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi lebih tinggi. Agus mengungkap capaian tersebut di tengah nilai perdagangan ekspor minyak

Powered by Ajakin.id — AI Engine

Pilihan Redaksi

PMI Hong Kong Soroti Perlindungan Hak Dapatkan KeadilanPekerja Migran Indonesia

PMI Hong Kong Soroti Perlindungan Hak Dapatkan Keadilan

Afifah· 19 August 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.