
Bantah Jokowi! DPR Sebut Revisi UU KPK Hasil Kerja Kolektif Pemerintah

Baca Juga: Cek Desil dan Bansos Bisa Gunakan NIK Ia pun merujuk pada landasan hukum tertinggi negara sebagai dasar sanggahannya terhadap pernyataan mantan presiden tersebut. “Pernyataan Presiden ke 7 Joko Widodo yang intinya merasa tidak berperan dalam pengesahan UU KPK 2019 atau UU Nomor 19 Tahun 2019 Tentang KPK tidak tepat,” ujar Abduh dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria, di Jakarta, Senin (16/2/2026). Politisi Fraksi PKB ini juga menanggapi perihal Jokowi yang tidak menandatangani dokumen revisi UU KPK tersebut. Baca Juga: Perkuat Solidaritas PMI, PCINU Taiwan Gagas Madrasah Penggerak Menurut Abduh, tindakan tidak menandatangani secara konstitusi bukan berarti presiden menolak keberadaan undang-undang tersebut. Hal ini dijelaskan melalui Pasal 20 ayat (2) UUD 1945 yang menekankan bahwa setiap rancangan undang-undang dibahas bersama oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan. “Hal ini sesuai dengan Pasal 20 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi, setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama," ujar Abduh. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa berdasarkan konstitusi, sebuah undang-undang yang sudah disahkan tetap berlaku sah meskipun tanpa tanda tangan presiden setelah melewati batas waktu tertentu. Oleh karena itu, klaim tidak menandatangani dianggap tidak menggugurkan peran pemerintah dalam proses kelahirannya. "Kemudian, soal tidak ditandatanganinya UU KPK terbaru oleh beliau, hal tersebut tidak berpengaruh apa-apa karena berdasarkan Pasal 20 ayat (5) UUD 1945, UU tetap berlaku 30 hari setelah disahkan dengan atau tanpa tanda tangan Presiden," imbuhnya. Persoalan ini mencuat setelah sebelumnya Joko Widodo menyatakan dukungan atas usulan pengembalian UU KPK ke versi lama. Dalam pernyataannya pada Jumat (13/2), Jokowi menekankan bahwa revisi UU KPK tahun 2019 adalah inisiatif dari pihak DPR dan dirinya mengklaim tidak memberikan tanda tangan pada hasil revisi tersebut. (af/hi) Pilihan Redaksi: Seleksi Ketat Atase: Tamatnya Era Pejabat Titipan?
Baca Berita Lainnya di Google NewsPilihan Redaksi
Pekerja Migran IndonesiaPHK Meningkat, Pemerintah Diminta Perluas Penempatan PMI
⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.
Baca Juga
Komentar (0)
Login dulu untuk meninggalkan komentar.
Paling Banyak Dibaca

PHK Meningkat, Pemerintah Diminta Perluas Penempatan PMI
Pekerja Migran Indonesia

DPR Minta KP2MI Tingkatkan Transparansi Informasi Peluang Kerja Luar Negeri
Pekerja Migran Indonesia

DPR RI Minta Pemerintah Perketat Pengawasan Imigrasi di Pintu Keberangkatan PMI
Pekerja Migran Indonesia

Narapidana Lapas Porong Gagal Terima Paket Ekstasi
Daerah

Dugaan TPPO dan Lalainya Negara Terhadap Ruhyani
Lipsus
Editorial

Darurat TPPO: Kedubes Arab Saudi Harus Ikut Bertanggungjawab
Editorial

Mengawal Hak Asasi Pelaut Kita dan Peran Vital SPPI di Laut Lepas Taiwan
Editorial

Manipulasi Dokumen: Awal Petaka Pekerja Migran Indonesia
Editorial

Kawal Revisi UU PPMI Demi Keselamatan Pekerja Migran
Editorial

Darurat Mafia Paspor, Dirjen Imigrasi Harus Tegas
Editorial
Komentar Terbaru
Belum ada komentar.



