VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat respons dingin dari massa buruh saat peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Monumen Nasional (Monas), Jumat (1/5/2026).
Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, para buruh secara kompak menyatakan bahwa program tersebut tidak memberikan manfaat bagi mereka.
Momen tersebut terjadi saat Presiden Prabowo melemparkan pertanyaan langsung kepada massa yang hadir mengenai dampak program tersebut.
“Saya bertanya kepada saudara-saudara, MBG bermanfaat atau tidak?,” tanya Presiden di tengah pidatonya.
Pertanyaan itu pun langsung dijawab dengan teriakan kata “Tidak” secara serentak oleh para buruh.
Meski sempat terdiam sejenak mendengar jawaban massa, Presiden Prabowo tetap memberikan pembelaan terhadap program tersebut.
Ia menegaskan bahwa MBG merupakan investasi jangka panjang untuk memperbaiki gizi generasi mendatang sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat.
“MBG itu sangat penting bagi anak-anak kita. Anak-anak kita banyak yang mengalami kurang gizi. Dengan MBG ekonomi kita hidup di mana-mana. Rakyat butuh telur, daging, sayur, susu, ikan; ekonomi kita hidup, petani kita dapat penghasilan, uang ini beredar, Indonesia tambah kuat,” tegas Presiden Prabowo.
Namun, pernyataan Presiden tersebut dibayangi oleh sejumlah insiden teknis di lapangan.
Selain penolakan dari elemen buruh, pelaksanaan MBG juga diwarnai laporan kasus kesehatan di daerah.
Salah satu yang terjadi di Kecamatan Tulung, Klaten, Jawa Tengah, pada Rabu (29/4/2026) di mana sebanyak 219 siswa dilaporkan mengalami keracunan massal.
Para siswa di Klaten tersebut mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi menu sop gelatin yang dibagikan dalam program MBG.
Kejadian ini menjadi sorotan tajam di tengah upaya pemerintah meyakinkan publik mengenai keamanan dan urgensi program tersebut bagi kesejahteraan rakyat Indonesia.



























