VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Ketua KPK Setyo Budiyanto menyoroti makna perjuangan di era sekarang yang menurutnya tidak lagi identik dengan medan perang, melainkan diwujudkan lewat pengabdian jujur dan keberanian menjaga prinsip. Hal itu disampaikan saat memimpin upacara peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026).
Ia menyebut momentum kemerdekaan menjadi pengingat bahwa perjuangan bangsa kini bisa hadir dalam bentuk pelayanan tulus dan komitmen untuk tidak menyalahgunakan wewenang, sekaligus mengajak seluruh insan KPK merawat integritas sebagai nilai yang benar-benar hidup, bukan sekadar formalitas.
"Mari kita rawat integritas sebagai nilai yang hidup, bukan sekadar slogan," terang Setyo.
Menurutnya, integritas semestinya lahir dari kesadaran pribadi untuk berperilaku jujur, bukan semata karena adanya pengawasan yang ketat terhadap kinerja pegawai.
Setyo menegaskan seluruh pegawai KPK mengemban tanggung jawab besar dalam menjaga salah satu fondasi penting kehidupan berbangsa, yakni integritas itu sendiri.
"Kita dipercaya untuk menjaga salah satu fondasi penting kehidupan berbangsa, yaitu integritas," kata Setyo.
Ia mengakui perjalanan menjaga integritas tidak pernah mudah lantaran tantangan, tekanan, dan kritik akan selalu menyertai. Meski begitu, ia meyakini KPK akan tetap memiliki arti penting bagi masyarakat selama seluruh jajarannya berpegang pada nilai kebenaran dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Setyo turut menegaskan menjaga integritas bukan semata soal meraih predikat terbaik, melainkan cerminan wajah institusi KPK di mata publik. Ia mengajak seluruh insan untuk terus menjaga profesionalisme dan independensi, bukan demi institusi semata, melainkan sebagai bukti bahwa amanah bisa dijalankan dengan jujur dan bertanggung jawab.
"Bukan karena kita bekerja di KPK, tetapi karena bangsa ini membutuhkan contoh bahwa amanah dapat dijalankan dengan jujur," sambungnya.
Menutup pesannya, Setyo menegaskan kekuatan sebuah institusi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kewenangan yang dimiliki, melainkan oleh karakter orang-orang yang mengabdi di dalamnya.
"Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh kewenangan yang dimilikinya, tetapi oleh karakter orang-orang yang mengabdi di dalamnya," pungkasnya.



























