VOICEINDONESIA.CO, Batam – Kedok manis penawaran kerja di luar negeri kembali memakan korban. NH (26), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Sidimpuan, Sumatera Utara, harus kembali ke tanah air dalam kondisi memprihatinkan akibat terserang stroke ringan saat dipekerjakan sebagai marketing judi online (judol) di Myanmar.
Pemulangan pemuda kelahiran 26 November 1999 tersebut difasilitasi oleh Tim Pelindungan BP3MI Kepulauan Riau (Kepri) setelah mendapat warkat telegram (brafak) resmi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yangon. Tim melakukan penjemputan langsung di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, pada Rabu (4/8/2026) sekitar pukul 08.00 WIB.
Kisah kelam NH bermula pada 22 Juni 2025. Pria berstatus belum menikah dan bertamatan SMA ini awalnya berpamitan kepada pihak keluarga di Kampung Nanas, Batam Centre, untuk bekerja di Malaysia. Namun, pamit tersebut nyatanya hanya kamuflase.
NH menyeberang lewat Pelabuhan Batam Center menggunakan modus "melancong" melalui rute transit Malaysia dan Thailand, hingga akhirnya tiba di pedalaman Myanmar. Di sana, ia dipekerjakan oleh pengelola perseorangan sebagai operator dan marketing judi online di sebuah lokasi terpencil yang berjarak sekitar 6 hingga 7 jam perjalanan darat dari bandara di Yangon.
Tekanan Kerja Ekstrem dan Terjebak di Myanmar
Kebohongan lokasi kerja tersebut baru terbongkar sekitar pertengahan Juni 2026. Pihak keluarga mendadak mendapat kabar buruk bahwa NH terbaring lemah di Department of Diabetes & Endocrinology Yangon General Hospital dengan diagnosis stroke ringan akibat tekanan kerja ekstrem dan penurunan kondisi fisik yang drastis.
Mendengar kabar kritis tersebut, adik korban berinisial ABH langsung melapor ke Crisis Center BP3MI Kepri via WhatsApp, sekaligus terbang menyusul ke Myanmar pada 21 Juni 2026 untuk mendampingi sang kakak.
Pihak BP3MI Kepri segera meneruskan permohonan pemulangan ke Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) di Jakarta untuk dikoordinasikan dengan Kedutaan RI di Yangon.
Dalam keterangan resminya, Kepala BP3MI Kepri Kombes Pol Imam Riyadi menjelaskan perkembangan kondisi korban.
"Mendengar kabar tersebut, adik korban berinisial ABH langsung terbang menyusul ke Myanmar pada 21 Juni 2026," jelas Imam kepada VOICEIndonesia.co, Rabu (5/8).
Upaya pemulangan sebenarnya sempat direncanakan pada 29 Juni 2026. Kala itu, NH dan adiknya sudah membeli tiket kembali ke Indonesia bersama seorang rekan sesama WNI berinisial JR. Namun, rencana tersebut kandas di bandara karena pihak maskapai menolak menerbangkan NH setelah menilai kondisi kesehatannya belum fit to fly (layak terbang). NH pun harus kembali menjalani pemantauan dan perawatan medis lanjutan di Yangon yang difasilitasi penuh oleh perwakilan RI.
"Beruntung, perwakilan pemerintah melalui KBRI Yangon bergerak cepat mendampingi, memfasilitasi kontrol kesehatan lanjutan, hingga akhirnya mengantarkan kepulangan NH melalui jalur Kuala Lumpur menuju Batam setelah kondisinya dinyatakan memungkinkan oleh tim medis," imbuh Imam.
Diterbangkan via Malaysia dan Imbauan Resmi
Setelah dinyatakan layak terbang oleh tim medis, proses kepulangan dimuluskan melalui penerbangan Myanmar Airways menuju Kuala Lumpur, Malaysia, sebelum dilanjutkan menggunakan maskapai AirAsia menuju Batam.
Setibanya di Bandara Hang Nadim Batam, Tim Pelindungan BP3MI Kepri langsung melakukan pendataan awal dan menyerahkan NH secara resmi kepada pihak keluarga untuk menjalani pemulihan lanjutan di kampung halaman.
Kombes Pol Imam Riyadi menegaskan, pihak BP3MI akan terus memantau dan memproses pemulangan PMI bermasalah, sembari mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan di luar negeri tanpa prosedur resmi yang melindungi hak-hak tenaga kerja.
Sementara itu, ABH tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya saat sang kakak berhasil menginjakkan kaki kembali di tanah air, meski harus ditopang dalam kondisi pemulihan pasca-stroke.
"KBRI di Myanmar benar-benar mendampingi dari awal dirawat, dibantu urus kesehatannya, sampai akhirnya bisa dipulangkan lewat Malaysia ke Batam hari ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BP3MI Kepri dan KBRI Yangon yang sudah mengurus semuanya, menjemput, dan memulangkan anak kami dengan selamat sampai di Hang Nadim," ucapnya.(iko/as)



















