VOICE Indonesia
Pekerja Migran Indonesia

SMK Go Global Latih 100 Peserta Jadi Barista di BLK Garut

S Nurafifa - VOICEIndonesia.coEditor: M. Rizki4 menit baca
VOICE Indonesia di Google
Seorang peserta berkemeja putih dan berapron hitam memegang portafilter di dekat mesin espresso. Di depannya tampak dua gelas kecil berisi espresso di atas mesin, dengan papan tulis dan ruang pelatihan di latar belakang.
Peserta pelatihan barista program SMK Go Global menyiapkan espresso di BLK Kabupaten Garut, Jawa Barat.(Foto: Voiceindonesia.co/Humas KP2MI)

VOICEINDONESIA.CO, Garut – Sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan barista program SMK Go Global di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Garut, Jawa Barat, selama 16 hari. Selama 160 jam pelajaran, peserta mempelajari pengelolaan bahan, peralatan, dan area kerja. Mereka juga belajar menggunakan alat manual brew dan mesin espresso, menangani pelanggan, serta menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja.

Instruktur Barista BLK Kabupaten Garut, Aline Novita Dewi, menyatakan pelatihan tidak hanya bertujuan menghasilkan secangkir kopi yang enak. Peserta juga dipersiapkan memiliki sikap dan kebiasaan kerja yang dibutuhkan di dunia industri.

“Selain itu, kedisiplinan juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta. Seluruh peserta jam tujuh pagi harus sudah sampai di sini. Jadi kita ada kegiatan rutin apel pagi jam setengah delapan, itu semuanya wajib hadir. Kalau tidak hadir, ada konsekuensinya. Jadi itu adalah untuk membentuk etos kerja dan kedisiplinan peserta,” ujar Aline.

Menurut Aline, sekitar 70 persen pelatihan diarahkan pada hard skill. Sisanya, 30 persen, berupa soft skill yang mendukung kesiapan peserta di lingkungan kerja.

Pada dua hari terakhir, peserta mengikuti simulasi open kedai. Mereka bergantian berperan sebagai barista, kasir, waiter, dan pelanggan.

Aline menyampaikan BLK Garut mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kementerian Ketenagakerjaan. Karena peserta disiapkan bekerja di luar negeri, pembelajaran diperkuat dengan praktik dan simulasi.

Aline juga menyebut lulusan SMK lebih sigap dibanding peserta lain.

“Memang yang dari lulusan-lulusan SMK ini lebih sigap lah kalau bisa dikatakan. Jadi ketika praktik dan menerima materi, mereka sudah lebih paham bagaimana harus bersikap. Mereka saat belajar di SMK sudah diajarkan untuk siap bekerja, jadi ketika mendapat pelatihan di sini, mereka memang sudah siap. Kalau saya sebagai instruktur itu melihatnya memang berbeda dari etos kerjanya, dari mulai kedisiplinannya dan kemandiriannya. Intinya memang kalau dari lulusan SMK itu memang sudah siap untuk bekerja,” jelasnya.

Menurut Aline, program SMK Go Global memberi kesempatan kerja bagi lulusan SMK maupun SMA. Ia menyebut mencari pekerjaan tidak mudah, terutama bagi yang belum berpengalaman.

“Melalui program SMK Go Global ini, lulusan SMK bisa mendapatkan pelatihan skill, kemudian mendapatkan sertifikat yang itu bisa menunjang kemampuan dan nilai jualnya ketika nanti berada di tempat kerja,” tambahnya.

Bagi peserta yang belum berpengalaman, Aline menyebut proses belajar membutuhkan latihan berulang. BLK Garut menerapkan praktik dan evaluasi melalui battle barista untuk mengukur kemampuan peserta dan menentukan bagian yang perlu ditingkatkan.

Peserta yang membutuhkan latihan tambahan dapat berlatih di luar jam pelatihan. Sejumlah peserta memilih berlatih hingga malam.

"Ada yang sampai jam delapan malam, ada juga yang sampai jam 11 malam. Karena mereka merasa, ‘oh saya tertinggal’. Jadi ketika battle itu, mereka jadi bisa mengukur kemampuannya, jadi tahu mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan," lanjutnya.

BLK Kabupaten Garut telah dua kali berkolaborasi dengan KP2MI dalam pelaksanaan pelatihan. Pemilihan kejuruan barista kali ini mempertimbangkan ketersediaan instruktur, fasilitas, dan kapasitas pelatihan.

Salah satu peserta, Tiara, lulusan SMK Negeri 1 Garut, mengaku belum memiliki pengalaman di bidang kopi. Ia mengetahui program SMK Go Global dari media sosial dan mengikuti pelatihan karena ingin bekerja di luar negeri.

"Dengan bekerja ke luar negeri, saya ingin memperoleh pengalaman baru, mengenal budaya lain, sekaligus mempelajari cara bekerja di lingkungan internasional," ungkap Tiara pada Kamis (17/9/2026).

Selama pelatihan, Tiara mempelajari berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan, resep minuman, hingga manual brew. Ia menyadari kerja di luar negeri membutuhkan kemampuan bahasa, pemahaman budaya, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi. Menurutnya, persiapan tersebut membuatnya lebih percaya diri berkomunikasi dan berinteraksi.

Sama seperti Tiara, peserta lain bernama Zaki mempelajari berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan, dan cara membuat beragam minuman berbahan dasar kopi.

“Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah ketika pertama kali mempelajari latte art. Saya benar-benar dari nol, tidak bisa apa-apa, hingga sampai saat ini saya bisa membuat latte art,” ujarnya.

Zaki meracik espresso dengan hiasan latte art berbentuk tulip saat ditemui. Ia berharap dapat bekerja sebagai barista di Turki. Ia juga ingin pengalaman ini membantu keluarganya, termasuk membiayai pendidikan kedua adiknya.

Ringkasan AI

Seratus peserta mengikuti pelatihan barista program SMK Go

Powered by Ajakin.id — AI Engine

Pilihan Redaksi

Presiden Prabowo Minta Tata Kelola Haji Dibersihkan, Dorong Audit Forensik KeuanganNasional

Presiden Prabowo Minta Tata Kelola Haji Dibersihkan, Dorong Audit Forensik Keuangan

M. Rizki· 29 September 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.