VOICEINDONESIA.CO, Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengangkat kisah Soegiarto, pemain Persebaya yang meninggalkan lapangan hijau untuk ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dalam Parade Surabaya Juang 2026. Kisah tersebut menjadi salah satu atraksi teatrikal yang dihadirkan untuk mengenang perjuangan arek-arek Suroboyo sekaligus menanamkan nilai kepahlawanan kepada generasi muda.
Parade Surabaya Juang 2026 akan digelar pada Minggu, 1 November 2026 dengan mengusung tema “Suroboyo Wani”. Kegiatan tahunan ini menghadirkan rekonstruksi sejarah perjuangan melalui parade kepahlawanan, atraksi teatrikal, serta pertunjukan seni dan musik di sepanjang rute kegiatan.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Herry Purwadi, mengatakan Parade Surabaya Juang menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengenang sejarah sekaligus meneladani keberanian, persatuan, dan semangat pantang menyerah para pejuang. Karena itu, ia mengajak warga Surabaya maupun masyarakat dari luar kota untuk menyaksikan langsung kegiatan tersebut.
"Parade Surabaya Juang bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga ruang bagi kita untuk kembali mengingat perjuangan para pahlawan dan mewariskan semangat kepahlawanan kepada generasi muda. Kami mengajak seluruh warga untuk hadir, meramaikan, dan bersama-sama menghidupkan suasana Kota Pahlawan dengan semangat Suroboyo Wani," ujar Herry.
Kisah Soegiarto menjadi salah satu bagian yang menarik dalam parade tahun ini. Sebagai pemain Persebaya, keputusannya meninggalkan aktivitas sepak bola untuk turut mempertahankan kemerdekaan menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berada di medan perang, tetapi juga oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.
Selain kisah tersebut, masyarakat dapat menyaksikan teatrikal perjuangan Tentara Genie Pelajar (TGP) di kawasan perempatan gedung eks-Siola serta atraksi Pertempuran 10 November 1945 di titik akhir parade.
Parade dijadwalkan mulai pukul 14.30 WIB, dengan titik pemberangkatan di kawasan Tugu Pahlawan, Jalan Pahlawan, dan berakhir di kawasan Balai Pemuda atau Alun-Alun Surabaya, Jalan Gubernur Suryo. Sepanjang rute sekitar 2,5 kilometer, peserta akan menggambarkan rangkaian peristiwa sejarah, mulai dari perlawanan terhadap ultimatum Sekutu hingga Pertempuran 10 November 1945.
Menurut Herry, tema “Suroboyo Wani” tidak hanya merefleksikan keberanian arek-arek Suroboyo pada masa perjuangan, tetapi juga relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Semangat tersebut dapat diteruskan melalui pendidikan, kreativitas, prestasi, budaya, olahraga, hingga kepedulian terhadap sesama.
"Semangat wani harus terus hidup dalam diri arek-arek Suroboyo. Kalau dahulu para pejuang berani mempertaruhkan jiwa dan raga demi kemerdekaan, sekarang kita bisa meneruskannya dengan berani belajar, berkarya, berprestasi, menjaga persaudaraan, dan memberikan kontribusi positif bagi kota," katanya.
Parade Surabaya Juang 2026 akan melibatkan sekitar 2.150 peserta dari berbagai unsur, mulai dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), prajurit TNI dan Polri, Paskibraka, komunitas pecinta sejarah, pemuda, hingga berbagai komunitas masyarakat.
“Kehadiran mereka akan membentuk rangkaian parade yang memadukan rekonstruksi sejarah, nilai kebangsaan, dan ekspresi budaya dalam satu perayaan untuk mengenang perjuangan bangsa,” imbuhnya.
Herry berharap, Parade Surabaya Juang dapat menjadi ruang kebersamaan lintas generasi untuk merawat ingatan sejarah sekaligus memperkuat identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Ia mengajak masyarakat tidak hanya menikmati kemeriahan parade, tetapi juga mengambil nilai perjuangan para pahlawan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Mari datang bersama keluarga, ajak anak-anak dan generasi muda untuk menyaksikan Parade Surabaya Juang 2026. Kita ramaikan Surabaya, kita kenang jasa para pahlawan, dan kita buktikan bahwa semangat Suroboyo Wani tetap menyala dalam diri masyarakat,” tuturnya.(joe)























