VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 32.389 pekerja terkena PHK sepanjang Januari hingga Juni 2026, dengan lonjakan 8.919 orang hanya dalam satu bulan terakhir. Ironisnya, angka itu muncul di tengah pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen di kuartal I 2026.
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menyebut kondisi ini sebagai siklus yang wajar dan meminta publik tidak hanya melihat sisi perusahaan yang tutup.
"Di ekonomi itu selalu ada seperti itu event dalam pasar yang kompetitif ada keluar masuk-keluar masuk, seperti entry dan exit. Jadi, Anda jangan lihat yang exit aja, karena di ekonomi yang lagi tumbuh pun ada perusahaan bangkrut," ujar Purbaya dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (21/7/2026).
Ia menunjuk data pengangguran yang menurun sebagai bukti bahwa penciptaan lapangan kerja baru jauh lebih besar dari jumlah pekerja yang terkena PHK.
"Kalau kita lihat unemployment turun sepertinya sih banyak adanya penciptaan lapangan kerja dibanding yang keluar. Justru pertumbuhan ekonomi menggambarkan itu sebetulnya," jelas Purbaya.
Purbaya mengakui ekonomi yang baik secara agregat tidak berarti bebas dari PHK maupun penutupan perusahaan. Pemerintah mengaku terus memantau situasi dan telah menggelontorkan berbagai stimulus agar ekonomi berputar lebih cepat dan menekan risiko PHK lebih lanjut.
"Seharusnya kondisi ekonomi memang baik secara agregat bukan berarti gak ada pemecatan, nggak ada perusahaan tutup, pasti ada. Cuman kita lihat yang baru berapa. Harusnya lebih banyak yang baru dibandingkan dengan yang perusahaan bangkrut atau keluar," beber Purbaya.

















