VOICE Indonesia
Ekonomi

Menperin ke Calon Pemimpin BUMN: Besarnya Perusahaan Tak Jamin Kelangsungan Bisnis

S Nurafifa - VOICEIndonesia.coEditor: Redaksi3 menit baca
VOICE Indonesia di Google
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita(Foto: Voiceindonesia.co/Ist)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan besarnya aset, jumlah karyawan, kekuatan modal, maupun keberhasilan perusahaan di masa lalu tidak otomatis menjamin keberlangsungan bisnis BUMN di masa depan. Hal ini disampaikan saat memberikan pembekalan pada Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) Pegawai BUMN Batch 1 Tahun 2026 di Kodiklat TNI, Serpong, Tangerang, Rabu (19/8/2026).

Agus mengungkap banyak perusahaan besar kehilangan posisinya di pasar karena terlambat membaca perubahan, terlalu lama mempertahankan asumsi lama, serta lambat melakukan transformasi bisnis.

"Dalam dunia yang berubah cepat, size is not security. Besarnya perusahaan bukan jaminan keamanan," katanya menegaskan.

Ia menambahkan keberhasilan masa lalu juga tidak otomatis menjamin relevansi perusahaan di masa mendatang, sehingga para calon pemimpin BUMN dituntut memiliki kemampuan membaca perubahan agar bisnis yang dikelolanya tetap relevan dalam jangka panjang.

Menperin menekankan pentingnya kualitas kepemimpinan BUMN dalam menghadapi perubahan global yang semakin cepat dan penuh ketidakpastian, di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi yang dapat mengubah peta persaingan, rantai pasok, teknologi, hingga model bisnis perusahaan.

"Ketika saudara kembali ke perusahaan masing-masing, ada pertanyaan fundamental yang harus dijawab. Apakah bisnis perusahaan kita hari ini masih akan relevan lima atau sepuluh tahun dari sekarang?" kata Menperin.

Ia menjelaskan BUMN memiliki posisi strategis dalam perekonomian nasional karena menguasai berbagai sektor penting, mulai dari infrastruktur, energi, pembiayaan, logistik, mineral, telekomunikasi, konstruksi, hingga pangan, sehingga kualitas kepemimpinannya turut memengaruhi arah pembangunan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Agus menyebut tantangan yang dihadapi perusahaan saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan harga energi, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok global, perubahan suku bunga, fluktuasi nilai tukar, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga transisi energi yang dapat mengubah struktur bisnis dalam waktu cepat. Perusahaan juga dituntut beradaptasi terhadap berbagai regulasi global terkait emisi, traceability, sustainability, standar ketenagakerjaan, antisuap, keamanan siber, dan perlindungan data.

Dalam konteks industrialisasi, Agus menegaskan BUMN harus mengambil peran sebagai pembangun kapabilitas, bukan hanya sebagai pemilik aset atau pelaksana proyek semata, namun lewat penguatan rantai nilai, percepatan hilirisasi, pembukaan pasar, integrasi industri kecil dan menengah ke rantai pasok, serta pembangunan teknologi dan talenta.

Ia menilai Program P3MD merupakan terobosan out of the box yang menunjukkan komitmen pemerintah memperkuat kapasitas kepemimpinan BUMN, sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto memperbaiki tata kelola BUMN lewat pencetakan sumber daya manusia (SDM) yang andal dan berjiwa patriot.

Menperin menyampaikan industrialisasi bukan sekadar membangun kapasitas produksi, melainkan proses transformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan hilirisasi sumber daya alam harus menjadi titik awal membangun industri bernilai tambah di dalam negeri, sehingga Indonesia tidak boleh berhenti sebagai pemasok bahan mentah atau hanya menjadi pasar bagi produk negara lain.

Kemenperin mencatat fundamental industri nasional saat ini menunjukkan kinerja positif, dengan industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen. Sektor ini berkontribusi 16,83 persen terhadap PDB nasional atau sekitar Rp1.102,88 triliun, dengan realisasi investasi mencapai Rp199,48 triliun atau 38,89 persen dari total investasi nasional, serta penyerapan tenaga kerja hingga Februari 2026 mencapai 19,99 juta orang.

Pada Januari-Juni 2026, ekspor industri pengolahan nonmigas menembus 115,50 miliar dolar AS atau berkontribusi 82,03 persen terhadap total ekspor nasional. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli 2026 berada pada level 53,1, sementara PMI Manufaktur Indonesia kembali berada di zona ekspansi pada level 50,2. Dari sisi Manufacturing Value Added (MVA), nilai MVA Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 275,61 miliar dolar AS, menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia sekaligus terbesar di Asia Tenggara.

Ringkasan AI

Jakarta – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan besarnya aset, jumlah karyawan, kekuatan modal, maupun keberhasilan perusahaan di masa lalu tidak otomatis menjamin keberlangsungan bisnis BUMN di masa depan. Hal ini disampaikan saat memberikan pembekalan pada Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) Pegawai BUMN Batch 1 Tahun 2026 di Kodiklat TNI, Serpong, Tangerang, Rab

Powered by Ajakin.id — AI Engine

Pilihan Redaksi

PMI Hong Kong Soroti Perlindungan Hak Dapatkan KeadilanPekerja Migran Indonesia

PMI Hong Kong Soroti Perlindungan Hak Dapatkan Keadilan

Afifah· 19 August 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.