VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Empat anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang sempat disandera perompak Somalia selama sekitar enam bulan akhirnya kembali ke Tanah Air. Keempatnya tiba di Jakarta dan disambut keluarga serta sejumlah pejabat pemerintah.
Keempat ABK tersebut merupakan bagian dari 17 awak kapal MT Honour 25 yang dibajak perompak Somalia. Mereka berhasil dibebaskan melalui operasi yang dilakukan pemerintah negara bagian Puntland, Somalia, pada 29 September 2026.
Empat ABK Indonesia yang berhasil kembali ke Tanah Air yakni Ashari Samadikun, yang menjabat sebagai kapten kapal dan berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan; Wahudinanto, Chief Officer asal Pemalang, Jawa Tengah; Adi Faizal, 2nd Officer asal Bulukumba, Sulawesi Selatan; serta Fiki Mutakin asal Bogor, Jawa Barat, yang mengalami luka.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono mengatakan pemerintah memastikan proses pemulihan dan perawatan kesehatan keempat ABK setelah kembali ke Indonesia.
“Sore hari ini kami menjemput saudara-saudara kita yang selama kurang lebih enam bulan, tepatnya lima bulan sepuluh hari, mengalami kasus penyanderaan,” kata Sugiono dalam penyambutan kepulangan para ABK.
Sugiono bersyukur keempat warga Indonesia tersebut dapat kembali dengan selamat ke Tanah Air dan berkumpul bersama keluarga.
Pemerintah juga memastikan perawatan kesehatan para ABK setelah melalui masa penyanderaan yang cukup panjang.
“Pada kesempatan ini saya selaku Menko PMK ingin memastikan bahwa kelanjutan dari proses ini, di mana perawatan kesehatan bagi saudara-saudara kita ini juga bisa terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha C. Nasir mengatakan proses pembebasan para ABK dilakukan melalui koordinasi dan diplomasi dengan berbagai pihak sejak awal penyanderaan.
Dari total 17 awak kapal, empat di antaranya merupakan warga negara Indonesia. Awak kapal lainnya berasal dari India, Pakistan, dan Myanmar.
“Sehingga koordinasi kita tidak saja dilakukan dengan pemerintah Somalia dan juga pemilik kapal, namun juga dengan pemerintah-pemerintah yang warga negaranya ikut di dalam kru kapal,” kata Arrmanatha.
Menurut Arrmanatha, proses pembebasan tersebut membutuhkan waktu cukup lama. Pemerintah Indonesia berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, pihak keluarga, pemilik kapal, serta Komisi I DPR RI.
Arrmanatha juga menyampaikan apresiasi kepada Ashari Samadikun yang dinilai bertanggung jawab dalam memimpin para awak kapal selama berada dalam penyanderaan.
“Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih, pertama kepada Kapten Ashari, yang merupakan kapten kapal yang sangat bertanggung jawab dan memimpin para kru, sehingga khususnya kru Indonesia selama di kapal dan dalam proses pembebasan ini dapat selamat,” ujarnya.
Pemerintah juga mengungkap alasan proses negosiasi pembebasan para ABK tidak disampaikan secara terbuka kepada publik selama penyanderaan.
Menurut Arrmanatha, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan para sandera dan mencegah informasi mengenai proses negosiasi dimanfaatkan oleh pihak pembajak.
“Sejak awal kita memang tidak terbuka memberitahukan kepada media bagaimana proses ini, karena memang itu adalah suatu proses perundingan, negosiasi, diplomasi yang kita tidak ingin digunakan oleh pihak pembajak untuk menekan kita,” kata Arrmanatha.
Sementara itu, Ashari Samadikun menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perhubungan, yang telah membantu proses pembebasan mereka.
Ashari mengatakan, pada hari pertama dirinya mendapatkan kesempatan untuk berkomunikasi dengan pihak di luar kapal, ia langsung menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Nairobi.
“Saya berterima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perhubungan. Pada hari pertama saya mendapatkan kesempatan untuk menghubungi pihak di luar kapal, yang pertama saya hubungi adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia di Nairobi,” kata Ashari.
Ia juga mengapresiasi pihak-pihak yang terus memberikan dukungan kepada para ABK dan keluarga selama masa penyanderaan.
“Dengan koordinasi Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perhubungan, kami akhirnya bisa dibebaskan,” ujarnya.
Namun, kepulangan Ashari ke Tanah Air juga dibayangi kesedihan. Lima awak kapal lainnya meninggal dunia selama masa penyanderaan.
Dengan suara penuh haru, Ashari menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga lima awak kapal yang meninggal.
“Saya selaku kapten memohon maaf sebesar-besarnya kepada kelima keluarga kru saya yang telah meninggal dunia. Saya tidak bisa menepati janji saya untuk membawa seluruh kru saya kembali dalam keadaan selamat,” ujarnya.
Dalam operasi pembebasan tersebut, para awak kapal yang selamat berhasil dievakuasi, sementara sejumlah orang yang diduga merupakan perompak ditahan oleh aparat Puntland. Sebagian perompak lainnya melarikan diri menuju daratan.
Pemerintah Indonesia menyatakan kepulangan empat ABK tersebut menjadi akhir dari proses panjang pembebasan dan pemulangan mereka setelah berbulan-bulan berada dalam situasi penyanderaan.
Kini, Ashari Samadikun, Wahudinanto, Adi Faizal, dan Fiki Mutakin dapat kembali berkumpul bersama keluarga dan menjalani proses pemulihan setelah melalui masa sulit selama berada di laut. (rnm)



























