VOICEINDONESIA.CO, New York – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat dan Iran segera melanjutkan pembicaraan menuju penyelesaian damai atas konflik yang sedang berlangsung antara kedua negara, menyusul berakhirnya periode negosiasi 60 hari yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump berdasarkan Kesepakatan Iran yang ditandatangani di Versailles pada 18 Juni 2026.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengungkap desakan tersebut dalam konferensi pers.
"[Guterres] mendesak Republik Islam Iran dan Amerika Serikat untuk melanjutkan negosiasi menuju penyelesaian damai dan berkelanjutan sesegera mungkin," kata Dujarric pada Senin (17/8/2026).
Guterres turut meminta Washington dan Teheran menurunkan retorika masing-masing serta berupaya mencegah dimulainya kembali aksi militer di kawasan tersebut.
Konflik ini memanas setelah Trump menyatakan gencatan senjata yang dicapai dengan Iran pada malam 18 Juni tidak lagi berlaku, pada 8 Juli 2026. Militer AS sejak itu melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran, dengan Komando Pusat AS mengklaim tindakan tersebut sebagai respons atas gangguan Teheran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan AS di seluruh Timur Tengah, sekaligus menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.
Dalam beberapa minggu terakhir, Washington dan Teheran dilaporkan berupaya menyepakati syarat-syarat kesepakatan baru untuk mengakhiri konflik dengan bantuan sejumlah mediator Timur Tengah. Trump sendiri mengungkap pada 9 Agustus 2026 bahwa Washington bernegosiasi dengan Teheran secara setengah hati, di tengah situasi ekonomi Iran yang diduga terus memburuk.


























