VOICEINDONESIA.CO, New York – Indonesia menegaskan reformasi PBB tidak boleh berhenti pada urusan efisiensi semata. Sebab, legitimasi, efektivitas, dan akuntabilitas justru menjadi taruhan yang lebih besar bagi masa depan sistem multilateral.
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono menyampaikan hal tersebut saat mendorong penguatan peran negara berkekuatan menengah atau middle powers dalam Pertemuan Menlu ke-30 MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia), yang digelar di sela-sela High-level Week Sidang Majelis Umum ke-81 PBB di New York, Senin.
"MIKTA dapat menjaga kesinambungan inisiatif reformasi yang telah berjalan dan membantu membangun konsensus mengenai peta jalan reformasi dengan arah yang jelas dan mencerminkan visi bersama," jelas Sugiono dalam keterangan pada Selasa (22/9/2026).
Ia menilai kekuatan MIKTA terletak pada kredibilitas dan konsistensi, yang lahir dari keberagaman perspektif dan kawasan negara-negara anggotanya, dan usulan mekanisme negara koordinator untuk isu-isu tertentu dinilai bisa memperkuat konsistensi koordinasi kelompok ini agar kerja sama berjalan lebih terarah dan solid.
Sugiono turut mengapresiasi kepemimpinan Australia sebagai Ketua MIKTA 2026 yang berhasil menjaga produktivitas forum ini, sekaligus memuji respons cepat MIKTA lewat pernyataan bersama menyusul serangan terhadap pasukan pemelihara perdamaian Indonesia yang tergabung dalam UNIFIL di Lebanon pada April 2026.
Menurut Menlu RI, kemampuan merespons perkembangan secara waktu-nyata menjadi kunci bagi MIKTA untuk menjaga relevansinya di tengah dinamika global, termasuk pada isu pembangunan dan kecerdasan buatan (AI) yang turut dibahas para menteri luar negeri MIKTA.
Sugiono juga menekankan pentingnya memperluas kerja sama dengan sektor swasta, filantropi, dan mitra strategis lainnya, karena hal itu dinilai dapat membantu menerjemahkan gagasan menjadi aksi nyata di lapangan.
"Pada akhirnya, kekuatan middle powers hanya akan berarti ketika kita mampu mengubah kekuatan kolektif menjadi dampak yang nyata," ujar Sugiono.
Keketuaan Australia pada MIKTA 2026 mengusung tema "State of the Multilateral System and the Role of Middle Powers", dan pertemuan kali ini turut dihadiri Menteri Luar Negeri Meksiko, Republik Korea, dan Turki.



























