VOICEINDONESIA.CO, Jenewa – Ancaman baru mengintai Gaza menjelang musim hujan. Hampir seribu dari sekitar 1.764 lokasi pengungsian yang dikaji di seluruh Gaza berada di kawasan berisiko banjir sedang hingga tinggi, dan menampung sekitar satu juta jiwa yang hidup dalam kondisi yang kian memburuk sejak musim dingin tahun lalu.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan OCHA memperingatkan sekitar 400.000 jiwa mungkin harus direlokasi begitu hujan lebat mulai turun, sementara lahan yang tersedia sangat terbatas dan sumber daya yang ada pun jauh dari memadai.
"Banyak keluarga pengungsi bertahan di tempat-tempat penampungan yang kondisinya kian memburuk sejak musim dingin tahun lalu, dengan perlindungan yang terbatas, sistem drainase yang tidak memadai, serta kekurangan kasur, selimut, dan barang kebutuhan pokok rumah tangga lainnya," papar OCHA, dilansir Kamis (24/9/2026).
Di sisi energi, masuknya 550.000 liter bahan bakar pada Selasa (22/09/2026) disebut membantu layanan dasar tetap beroperasi, namun OCHA menegaskan jumlah itu masih jauh di bawah kebutuhan minimum. Para mitra melaporkan penggunaan generator cadangan secara ekstensif sudah tidak bisa dipertahankan lebih lama.
"Pendanaan tambahan sangat dibutuhkan untuk mempertahankan ketersediaan bahan bakar dan mencegah perlambatan yang berbahaya pada layanan kesehatan, penyediaan air, operasi penyelamatan, serta layanan-layanan penting lainnya," ungkap OCHA.
Persetujuan untuk oli mesin, suku cadang, panel surya, bahan bakar komersial, serta dilanjutkannya operasional Pembangkit Listrik Gaza disebut sebagai kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda. Sebagai langkah darurat, OCHA mengalokasikan 2 juta dolar AS dari dana kemanusiaan Palestina pada 17 September lalu, ditambah donasi terbaru dari Qatar untuk mendanai pasokan bahan bakar bagi fasilitas medis.
"Para mitra memperingatkan bahwa sekitar 400.000 jiwa mungkin perlu direlokasi begitu hujan lebat mulai turun," pungkas OCHA.



























