VOICEINDONESIA.CO, Tokyo – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negara-negara di kawasan Asia, termasuk Jepang dan Korea Selatan, akan jauh lebih aman apabila dirinya menjabat sebagai presiden, sebuah pernyataan yang ia sampaikan di tengah pendekatan diplomatiknya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
"Saya pikir negara kita, dan saya pikir negara-negara lain, terus terang, baik itu Jepang atau Korea Selatan, akan jauh lebih aman jika saya menjadi presiden," katanya dilansir Kamis (20/8/2026).
Trump turut mengklaim Kim menyukai dirinya secara personal, dan hubungan persahabatan antara Amerika Serikat dengan Korea Utara akan menguntungkan seluruh dunia.
Di tengah klaim tersebut, Trump mengungkap keinginannya mengadakan pertemuan langsung dengan Kim sebelum akhir tahun ini, menyusul pendekatan diplomatik yang telah ia lakukan sejak awal pekan ini.
"Ya, saya akan bertemu," kata Trump, saat ditanya soal kemungkinan pertemuan tersebut pada akhir 2026, tanpa memberi rincian lebih lanjut termasuk soal apakah dirinya telah berkirim surat dengan pemimpin Korut itu.
Korea Utara sendiri telah lama menuntut pengakuan sebagai negara bersenjata nuklir sebagai salah satu prasyarat melanjutkan perundingan dengan Washington. Pada 2018, Trump menjadi presiden AS petahana pertama yang bertemu langsung dengan pemimpin Korut itu saat berjabat tangan dengan Kim di Singapura, di mana kedua pemimpin sepakat mengupayakan denuklirisasi total Semenanjung Korea.
Trump kembali mengadakan dua pertemuan tatap muka dengan Kim pada tahun berikutnya, namun kedua pihak akhirnya pulang tanpa hasil konkret, sementara Korut terus meningkatkan kemampuan rudal dan nuklirnya hingga kini.
Dalam konferensi pers terpisah pada Rabu sore di Gedung Putih, Trump menghindari pertanyaan mengenai apakah tujuan diplomasi lanjutannya dengan Korut masih diarahkan untuk mendorong denuklirisasi negara tersebut.
Trump juga sempat menyinggung soal kepemilikan senjata nuklir Korut yang menurutnya seharusnya tidak pernah dibiarkan terjadi, seraya menegaskan tidak akan pernah mengizinkan hal serupa apabila menjabat presiden saat Korut mulai mengembangkan senjata tersebut.
"Seharusnya hal itu jangan pernah dibiarkan terjadi... Jika saya seorang presiden [saat itu], saya tidak akan mengizinkannya, tetapi dia memilikinya," kata Trump.



























