VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Indonesia mengusulkan gagasan besar dalam forum BRICS: kebudayaan tidak lagi cukup diposisikan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan harus berdiri sebagai tujuan tersendiri dalam kerangka pembangunan global pasca-2030.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menyampaikan usulan ini dalam XI BRICS Culture Ministers' Meeting di Madhya Pradesh, India.
Fadli menegaskan tantangan global seperti disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi, tekanan perubahan iklim, dan fragmentasi sosial justru semakin membuktikan bahwa kebudayaan merupakan fondasi penting yang mampu memperkuat ketangguhan masyarakat, mendorong inovasi, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Indonesia mendorong penguatan kerja sama kebudayaan BRICS lewat empat agenda utama, dimulai dari penguatan pelindungan warisan budaya serta kerja sama pengembalian dan restitusi benda budaya lintas negara.
Agenda kedua mendorong penguatan industri budaya dan kreatif dengan menempatkan seniman dan kreator sebagai pusat ekosistem, termasuk lewat pelindungan hak kekayaan intelektual dan remunerasi yang adil bagi para pelaku kreatif.
Ketiga, Indonesia mendorong pelindungan sistem pengetahuan tradisional dengan memastikan keterlibatan langsung masyarakat dan para pemegang pengetahuan itu sendiri dalam setiap prosesnya.
Keempat, Indonesia mengusulkan kebudayaan ditempatkan sebagai tujuan tersendiri dalam kerangka pembangunan global pasca-2030 agar kontribusinya terhadap pembangunan bisa diakui secara lebih jelas dan berkelanjutan.
Fadli menyambut baik Deklarasi XI BRICS Culture Ministers' Meeting sebagai komitmen bersama menjadikan kebudayaan sebagai kekuatan strategis bagi ketangguhan, inovasi, keberlanjutan, dan penguatan kerja sama antarnegara BRICS.
"Komitmen yang telah disepakati perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret, berkelanjutan, dan saling menguntungkan. Kerja sama BRICS harus menjadi jembatan yang menghubungkan para kreator, masyarakat, institusi, dan generasi mendatang," kata Fadli, Senin (10/8/2026).
Deklarasi tersebut turut memuat komitmen negara-negara BRICS memperkuat industri budaya dan kreatif, termasuk mendorong pemanfaatan kecerdasan artifisial secara etis dan bertanggung jawab dengan tetap menghormati keberagaman budaya masing-masing negara anggota.
Selain itu, negara-negara BRICS sepakat memperkuat dokumentasi dan penelitian provenans, kerja sama pengembalian benda budaya, pelindungan sistem pengetahuan tradisional, hingga peningkatan kerja sama antarmuseum, perpustakaan, arsip, dan institusi kebudayaan lainnya.
Pertemuan yang menjadi bagian dari rangkaian BRICS Culture Track 2026 ini dihadiri utusan India, Indonesia, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, Brasil, Etiopia, Tiongkok, Rusia, dan Iran, serta perwakilan negara mitra BRICS seperti Kuba, Belarus, Thailand, dan Kazakhstan.






















