VOICE Indonesia
Pekerja Migran Indonesia

Potret Buram Migrasi: PMI Diduga Korban TPPO Menjerit Di Hari Kemerdekaan

Redaksi - VOICEIndonesia.co4 menit baca
VOICE Indonesia di Google
Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Dewi binti Dindin memohon pertolongan karena terperangkap dalam penderitaan di Riyadh, Arab Saudi.
Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Dewi binti Dindin memohon pertolongan karena terperangkap dalam penderitaan di Riyadh, Arab Saudi.(Foto: dok.voiceindonesia.co)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Di tengah euforia peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 pada Senin (17/08/2026), sebuah kenyataan pahit menyeruak dari belahan bumi lain.Redaksi VOICEIndonesia.co menerima rekaman video berdurasi 1 menit 42 detik yang memperlihatkan nasib pilu seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Dewi binti Dindin.

Di hari saat bangsa Indonesia merayakan kebebasan dan kedaulatannya, Warga Negara Indonesia (WNI) asal Sukabumi tersebut justru merintih memohon pertolongan karena terperangkap dalam penderitaan di Riyadh, Arab Saudi.

Kondisi ini menjadi tamparan keras sekaligus potret miris pertunjukan kontradiksi di usia kemerdekaan negara yang telah mencapai delapan dekade lebih. Predikat "Pahlawan Devisa" yang kerap disematkan secara manis kepada para pejuang keluarga di luar negeri seolah menjadi narasi kosong ketika realitas di lapangan menunjukkan mereka masih sangat jauh dari kata terlindung oleh negara.

Perlindungan hukum dan jaminan keselamatan yang seharusnya menjadi hak dasar setiap warga negara belum sepenuhnya dirasakan oleh para pekerja yang kini mengetuk pintu keadilan dari balik perbatasan.

Dalam rekaman video tersebut, Dewi mengungkapkan secara langsung kronologi awal keberangkatannya hingga akhirnya terjebak dalam pusaran dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Ia mengaku menjadi korban penipuan oknum sponsor yang memproses keberangkatannya ke luar negeri dengan modus janji manis penempatan kerja secara prosedural.

"Perkenalkan saya Pekerja Migran Indonesia atas nama Dewi binti Dindin. Saya sekarang berada di negara Timur Tengah, Riyadh. Saya seorang TKW yang dulu diproses oleh Pak Adoh secara ilegal. Saya ditipu oleh sponsor di iming-iming bekerja ke luar negeri berangkat melalui PT resmi, ternyata saya dikirim secara ilegal ke Saudi dan Syarikah Wathan," tutur Dewi.

Penderitaan Dewi kian bertambah ketika ia ditempatkan di rumah majikan pertamanya di Arab Saudi. Bukannya mendapatkan pekerjaan yang layak dan perlindungan sebagaimana mestinya, ia justru dipaksa bertahan di bawah tekanan fisik dan perlakuan kasar yang melanggar hak asasi manusia. Selama berbulan-bulan bekerja, ia harus menelan kepahitan akibat kekerasan yang dialaminya tanpa ada pihak yang membela atau melindunginya di lokasi kerja.

Dewi menceritakan betapa tidak manusiawinya perlakuan yang ia terima selama berada dalam cengkeraman majikan tersebut hingga fisiknya tak sanggup lagi menahan beban. "Saya bekerja di majikan pertama selama sekian bulan dan saya dapat perlakuan tidak manusiawi oleh pihak majikan. Saya dianiaya dan dipukul. Karena saya enggak kuat, saya mengadu kepada sponsor saya, tapi sponsor tidak bertanggung jawab sama sekali," ungkapnya dengan nada penuh rasa trauma.

Tanpa adanya perlindungan dari agen penempat maupun sponsor yang lepas tangan, Dewi akhirnya nekat melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya. Namun, tindakan melarikan diri tersebut justru menempatkannya pada posisi yang serba sulit secara hukum di negara penempatan, hingga membuatnya terisolasi dan tidak memiliki akses legal untuk kembali ke kampung halaman. Kini, di tengah keterbatasan dan rasa takut, ia tidak memiliki pilihan lain selain menggantungkan harapannya pada respons cepat dari pemerintah pusat.

Melalui video singkat tersebut, Dewi melayangkan permohonan terbuka kepada jajaran Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri serta KBRI/KJRI setempat, agar segera turun tangan menyelamatkan dirinya dan PMI lain yang mengalami nasib serupa.

"Dan akhirnya saya memberanikan diri untuk kabur, dan saya enggak bisa pulang ke Indonesia. Dan saya minta tolong ke Pemerintah Indonesia agar dapat membantu kepulangan saya dari Saudi Arabia. Saya mohon bantuan... kami rakyat Indonesia korban penipuan dari sponsor agar dapat dibantu pulang ke tanah air," tegasnya memohon dipulangkan.

Kisah pilu Dewi binti Dindin yang menyeruak tepat di hari kemerdekaan RI ke-81 ini menjadi catatan kritis bagi pemerintah untuk mengevaluasi secara mendasar sistem pengawasan serta penindakan tegas terhadap sindikat TPPO dan sponsor ilegal.

Negara dituntut tidak hanya bangga menerima devisa hasil keringat para Pekerja Migran Indonesia (PMI), tetapi juga hadir secara nyata memberikan perlindungan holistik dari hulu hingga hilir. Video tersebut diakhiri Dewi dengan pesan menyayat hati: "Terima kasih dan salam dari kami TKW yang bernasib kurang baik." (as/red)

Ringkasan AI

Di tengah euforia peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 pada Senin (17/08/2026), sebuah kenyataan pahit menyeruak dari belahan bumi lain.Redaksi VOICEINDONESIA.CO menerima rekaman video berdurasi 1 menit 42 detik yang memperlihatkan nasib pilu seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) bernama Dewi binti Dindin. Di hari saat bangsa Indonesia merayakan kebebasan dan kedaulatannya, Warga Negara Indonesia (WNI) asal Sukabumi tersebut justru merintih memohon pertolongan karena terperangkap dalam penderitaan di Riyadh, Arab Saudi.

Powered by Ajakin.id — AI Engine

Pilihan Redaksi

Tanpa Kompromi Imigrasi Ngurah Rai Deportasi Pengelola Konten Ilegal Di BaliImigrasi

Tanpa Kompromi Imigrasi Ngurah Rai Deportasi Pengelola Konten Ilegal Di Bali

VOICE Indonesia· 14 August 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.