VOICEINDONESIA.CO, Demak – Menjaga dan merawat kesehatan kulit secara rutin tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Kebiasaan sederhana seperti mandi secara teratur, mengganti pakaian, tidak berbagi handuk, hingga rutin mencuci sprei dapat menjadi bagian penting untuk mencegah berbagai penyakit kulit.
Pesan itu menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam kegiatan edukasi kesehatan kulit bertema “Membangun Kebiasaan Hidup Bersih dan Sehat” yang digelar AR Foundation di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Selasa, (22/09/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Timbulsloko tersebut menghadirkan dokter spesialis kulit dan kelamin, dr. Wahyu Hidayat, Sp.KK, sebagai narasumber. Sebanyak 69 warga serta sejumlah stakeholder di Desa Timbulsloko mengikuti kegiatan tersebut.
Edukasi ini tidak hanya fokus membahas penyakit kulit, tetapi juga mengajak masyarakat memahami bahwa kesehatan kulit sangat berkaitan dengan kebiasaan hidup sehari-hari.
Dalam pemaparannya, dr. Wahyu menjelaskan dua persoalan kulit yang cukup sering ditemukan di masyarakat, yakni skabies dan infeksi jamur kulit.
Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei varian hominis. Sementara infeksi jamur kulit dapat disebabkan oleh beberapa jenis jamur, di antaranya Trichophyton, Epidermophyton, dan Microsporum. Menurutnya, pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah.
Masyarakat dianjurkan mandi dua kali sehari menggunakan sabun, mengganti pakaian dua kali sehari setelah mandi, serta tidak saling bertukar pakaian dan handuk dengan orang lain.
Kebersihan tempat tidur juga perlu mendapat perhatian. Sprei dan sarung bantal sebaiknya dicuci secara rutin, setidaknya satu kali dalam seminggu. Jika memungkinkan, kasur juga dijemur secara berkala.
dr. Wahyu menilai edukasi semacam ini perlu dilakukan secara rutin, terutama pada lingkungan yang memiliki kepadatan tinggi seperti asrama, pondok pesantren, kos-kosan maupun lembaga pemasyarakatan.
Di lingkungan seperti itu, penularan penyakit kulit dapat lebih mudah terjadi apabila kebersihan diri dan lingkungan tidak diperhatikan. Ia berharap program AR Foundation tidak berhenti pada satu kegiatan.
“Harapan saya, program edukasi terhadap masyarakat, terutama di lingkungan kumuh, di satu tempat bisa dilakukan dua sampai tiga kali dalam setahun,” ujarnya.
Pemilihan Desa Timbulsloko sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Founder AR Foundation, Julia Purmawati, mengatakan Timbulsloko merupakan wilayah pesisir yang memiliki tantangan lingkungan dan kondisi kehidupan masyarakat yang membutuhkan perhatian, termasuk dalam aspek kesehatan kulit.
Menurut Julia, edukasi menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Masyarakat perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenali risiko, memahami cara menjaga kesehatan kulit, serta mengetahui kapan harus mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
“Edukasi kesehatan tidak hanya diberikan ketika masalah sudah terjadi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran dan perilaku hidup sehat di masyarakat,” kata Julia.
Bagi AR Foundation, keberhasilan kegiatan bukan semata-mata diukur dari jumlah warga yang hadir. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Julia berharap warga yang mengikuti kegiatan tersebut dapat membawa pulang pengetahuan baru, kemudian meneruskannya kepada anggota keluarga dan lingkungan sekitar.
Kepala Desa Timbulsloko, Nandhiri, mengatakan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan saat ini mulai menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Masyarakat, kata dia, semakin memahami bahwa kebersihan lingkungan memiliki hubungan erat dengan kesehatan keluarga dan kualitas hidup.
Kondisi geografis Timbulsloko yang menghadapi persoalan abrasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah desa dalam menjaga lingkungan.
“Yang paling utama adalah bagaimana mengubah kebiasaan masyarakat agar perilaku hidup bersih dan sehat benar-benar menjadi budaya sehari-hari. Mengubah kebiasaan tentu membutuhkan proses dan tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu singkat,” jelas Nandhiri.
Karena itu, menurutnya, edukasi harus berjalan beriringan dengan kerja sama antara pemerintah desa, masyarakat, kader kesehatan dan berbagai pihak lainnya.
Pendampingan ke depan, kata dia, dapat dilakukan melalui penguatan edukasi, koordinasi dengan pemerintah desa dan fasilitas kesehatan, maupun kegiatan lanjutan sesuai kebutuhan masyarakat.(joe)



























