VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Konser Ye Live in Jakarta 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, menarik sekitar 25 ribu penonton mancanegara dari 80 negara. Pertunjukan musisi dunia Ye atau Kanye West pada Sabtu (24/10/2026) itu diperkirakan menggerakkan perputaran ekonomi hingga Rp600 miliar.
Kementerian Pariwisata menilai keberhasilan konser tersebut menjadi bukti besarnya potensi pariwisata berbasis musik atau music tourism di Indonesia. Selain menarik wisatawan asing, konser berskala internasional juga dinilai mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perhotelan, kuliner, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengapresiasi penyelenggaraan konser perdana Ye di Indonesia yang menarik perhatian penggemar musik dari berbagai negara.
“Konser Ye Live in Jakarta merupakan momentum penting bagi pariwisata Indonesia. Kehadiran sekitar 25 ribu penonton mancanegara dari 80 negara menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya tarik yang sangat kuat sebagai destinasi pertunjukan musik internasional,” ujar Widiyanti dalam keterangan tertulisnya.
Menurut Widiyanti, konser tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya di panggung pariwisata dunia.
Berdasarkan data penyelenggara Raw Vision Collective per 26 Oktober 2026, konser Ye Live in Jakarta dihadiri sekitar 70 ribu penonton. Dari jumlah tersebut, sekitar 25 ribu di antaranya merupakan wisatawan mancanegara.
Penonton asing berasal dari 80 negara. Tujuh negara dengan jumlah penonton terbanyak yakni Australia, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Tiongkok.
Widiyanti mengatakan, konser musik internasional berpotensi menjadi alasan utama wisatawan melakukan perjalanan lintas negara. Peluang tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan selama berada di Indonesia.
“Wisatawan yang datang untuk menikmati konser tidak hanya membeli tiket pertunjukan. Mereka juga menggunakan transportasi, menginap di hotel, menikmati kuliner, berbelanja, dan memiliki kesempatan menjelajahi destinasi wisata lainnya,” katanya.
Karena itu, Kementerian Pariwisata mendorong penguatan ekosistem music tourism agar manfaat ekonomi dari penyelenggaraan konser dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Dampak ekonomi konser Ye Live in Jakarta juga dirasakan sektor pendukung pariwisata. Berdasarkan data Raw Vision Collective dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta, konser tersebut diperkirakan menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp600 miliar.
Perputaran ekonomi itu mencakup penjualan tiket, kuliner, merchandise, hingga transaksi pelaku UMKM.
Tingkat okupansi hotel di sekitar lokasi konser juga dilaporkan meningkat hingga mendekati 100 persen. Selain itu, penyelenggaraan konser melibatkan sekitar 5.000 pekerja, mulai dari tenaga produksi, operasional belakang panggung, hingga pekerja pendukung acara.
Widiyanti menilai, keterlibatan berbagai sektor tersebut menunjukkan besarnya dampak ekonomi yang dapat dihasilkan dari pariwisata berbasis event.
“Inilah kekuatan sesungguhnya dari pariwisata berbasis event. Satu konser internasional dapat menghidupkan banyak sektor ekonomi sekaligus, dari hotel, restoran, transportasi, UMKM, hingga membuka kesempatan kerja bagi ribuan orang,” ujarnya. (rnm)























