VOICEINDONESIA.CO, Cirebon – Jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai sekitar 30,87 juta orang, tetapi indeks literasinya baru 11,78 persen.
Kepala Direktorat Pengawasan Pengelolaan Investasi, Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi 1 dan Pasar Modal Regional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto mengatakan, jumlah investor itu meningkat 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan indeks inklusi tercatat 3,34 persen.
Sujanto mengatakan perluasan jumlah investor harus disertai pemahaman karakteristik produk dan risiko agar masyarakat memilih sesuai kemampuan finansial.
"Harapan kita yang paling penting adalah itu, bagaimana untuk ke depan itu untuk memahami risikonya," ujarnya pada Senin (26/10/2026).
OJK menggencarkan Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) lewat produk reksa dana. Program ini terdiri atas layanan reksa dana umum tanpa batasan usia dan SiMuda Investasiku untuk usia 18 hingga 30 tahun.
Sujanto menyebut sasaran program mencakup pelajar, mahasiswa, hingga pekerja.
"Harapannya ini akan menyebar pada banyak penduduk yang ada di Indonesia ini, termasuk nanti apakah pelajar, mahasiswa, pekerja, dan sebagainya," katanya.
Reksa dana dinilai bisa menjadi langkah awal sebelum calon investor mempelajari instrumen yang lebih kompleks seperti saham. Reksa dana terbagi dalam kategori pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham, dengan tingkat risiko berbeda.
Sujanto juga meminta media massa menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang agar masyarakat memahami peluang dan risiko sebelum berinvestasi.
"Kami berharap rekan-rekan wartawan bukan hanya sekadar sebagai peliput berita, melainkan juga menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang," tandasnya.























