VOICEINDONESIA.CO, Teheran – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menegaskan dialog yang saling menghormati dengan rakyat Iran menjadi satu-satunya pilihan bagi Amerika Serikat untuk menyelesaikan konflik antara kedua negara, seperti dikutip kantor berita Jamaran.
Araghchi menilai perang ekonomi yang diumumkan Presiden AS Donald Trump merupakan skenario berulang yang justru menunjukkan Amerika Serikat berada dalam keputusasaan.
"AS harus tahu bahwa tidak ada jalan lain bagi mereka selain berbicara secara hormat kepada rakyat Iran dan menemukan solusi berdasarkan keadilan dan kehormatan," kata Araghchi pada Minggu (23/8/2026).
Pernyataan ini disampaikan menyusul pengumuman Trump soal dimulainya operasi ekonomi terhadap Iran, yang ia sebut sebagai bentuk "isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" sembari menyerukan negara-negara sekutu untuk turut bergabung dalam tekanan tersebut.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran ini bermula sejak 28 Februari 2026, saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang balik pihak lawan. Pada Maret 2026, AS dan Israel kembali menyerang sasaran di ladang gas South Pars serta kawasan industri Assaluyeh di Iran selatan.
Pertengahan Juni 2026 lalu, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman mengenai penghentian permusuhan. Namun tidak lama berselang, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan hingga konflik ini belum terselesaikan sampai sekarang. Meski demikian, kedua negara saat ini tidak sedang bertempur secara langsung, sementara Amerika Serikat lebih mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Iran.



























