VOICEINDONESIA.CO, Teheran – Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan operasi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menargetkan Iran pasti akan gagal, sama seperti langkah-langkah koersif serupa yang pernah diterapkan negara tersebut terhadap Teheran selama bertahun-tahun.
Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut lewat akun media sosial X, sambil menyinggung rentetan kegagalan tekanan AS terhadap Iran sepanjang sejarah.
"14 tahun lalu: 'Sanksi paling melumpuhkan dalam sejarah.' Gagal. 8 tahun lalu: 'Tekanan maksimum.' Gagal. 5 bulan lalu: 'Penyerahan diri tanpa syarat.' Gagal. Hari ini: 'Operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah ada.' Pasti gagal," tulis Araghchi dilansir Sabtu (22/8/2026).
Pernyataan Araghchi ini muncul menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump pada Rabu (19/8/2026) soal rencana "operasi ekonomi paling melumpuhkan yang pernah dilakukan" terhadap negara mana pun yang memberikan bantuan vital bagi Iran.
Trump menyebut langkah tersebut sebagai "Ekonomi D-Day" lewat akun media sosialnya di Truth Social.
"Ini akan menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Trump.
Ketegangan kedua negara ini bermula sejak Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni 2026 untuk mengakhiri perang di kawasan Timur Tengah di semua lini, termasuk Lebanon. Berdasarkan MoU tersebut, kedua belah pihak dijadwalkan mengadakan perundingan dalam jangka waktu 60 hari yang berakhir pada Senin (17/8/2026), guna mencapai kesepakatan akhir.
Namun, nasib perundingan tersebut masih belum jelas hingga kini, menyusul eskalasi ketegangan antara kedua negara yang kembali memanas sejak bulan lalu.


























