VOICEINDONESIA.CO, Teheran – Wakil Menteri Perminyakan Iran Ahmad Zeraatkar mengungkap Teheran baru berhasil memulihkan sekitar 40 persen kapasitas produksi yang rusak di ladang minyak dan gas South Pars, meski proses pemulihan penuh diperkirakan masih membutuhkan waktu setidaknya dua tahun ke depan.
"Kami dapat mengatakan bahwa kami... berhasil memulihkan sekitar 40 persen kapasitas yang rusak," kata Zeraatkar dalam wawancara dengan kantor berita Fars dilansir Jumat (28/8/2026).
Zeraatkar menambahkan infrastruktur South Pars mengalami kerusakan serius akibat serangan Amerika Serikat dan Israel selama eskalasi konflik pada Maret 2026, sehingga pemulihan kapasitas secara penuh membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Sebelumnya pada Mei 2026, otoritas Iran mengungkap rencana pemulihan dan modernisasi infrastruktur yang terdampak telah disusun, dengan target pelaksanaan selesai dalam waktu maksimal dua tahun. Sekitar 50 persen pekerjaan pemulihan fasilitas South Pars direncanakan rampung pada musim dingin 2027.
Berbeda dengan klaim Zeraatkar, Kepala Pars Oil and Gas Company Touraj Dehghani pada pekan sebelumnya sempat menyebut pemulihan kapasitas produksi di kilang South Pars telah mencapai 70 persen.
Kerusakan fasilitas South Pars ini bermula sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan balasan. Pada pertengahan Juni 2026, Teheran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan, namun tak lama berselang kedua pihak kembali saling melancarkan serangan hingga kini.



























