VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk memperkuat analisis pasar kerja dan perencanaan pelatihan guna menghasilkan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adaptif dan berbasis data.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi menegaskan tantangan terbesar bukan sekadar menyediakan pelatihan tetapi memastikan pelatihan tersebut relevan dengan perkembangan industri.
Cris menjelaskan ada empat peran krusial AI dalam mendukung ekosistem ketenagakerjaan yakni memetakan kebutuhan tenaga kerja secara cepat, mengidentifikasi kesenjangan kompetensi, menyusun perencanaan pelatihan yang adaptif, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti bukan sekadar asumsi.
"Mandat besar Kemnaker adalah memastikan tenaga kerja kita tidak tertinggal, di sinilah peran AI menjadi krusial," kata Cris dalam keterangannya di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Cris mengingatkan teknologi hanyalah alat bantu dan kunci keberhasilan transformasi ini tetap berada pada kesiapan sumber daya manusia. Aparatur pemerintah dan tenaga kerja dituntut memiliki pola pikir adaptif dan semangat belajar yang berkelanjutan.
"Mari jadikan AI sebagai mitra strategis untuk meningkatkan layanan publik, memperkuat efektivitas organisasi, dan mendongkrak daya saing tenaga kerja Indonesia di kancah global," ujarnya.
Cris optimistis Indonesia mampu melakukan lompatan besar menuju masa depan ketenagakerjaan yang lebih unggul dengan memadukan jumlah tenaga kerja yang melimpah, semangat gotong royong, dan budaya belajar digital dengan kekuatan teknologi AI.
"Modal besar berupa jumlah tenaga kerja yang melimpah, semangat gotong royong, dan budaya belajar digital harus dipadukan secara apik dengan kekuatan teknologi AI," tegasnya.
ntuk meningkatkan layanan publik, memperkuat efektivitas organisasi, dan mendongkrak daya saing tenaga kerja Indonesia di kancah global," ujarnya.Cris optimistis Indonesia mampu melakukan lompatan besar menuju masantuk meningkatkan layanan publik, memperkuat efektivitas organisasi, dan mendongkrak daya saing tenaga kerja Indonesia di kancah global," ujarnya.
Cris optimistis Indonesia mampu melakukan lompatan besar menuju masa depan ketenagakerjaan yang lebih unggul dengan memadukan jumlah tenaga kerja yang melimpah, semangat gotong royong, dan budaya belajar digital dengan kekuatan teknologi AI.
"Modal besar berupa jumlah tenaga kerja yang melimpah, semangat gotong royong, dan budaya belajar digital harus dipadukan secara apik dengan kekuatan teknologi AI," tegasnya.
ntuk meningkatkan layanan publik, memperkuat efektivitas organisasi, dan mendongkrak daya saing tenaga kerja Indonesia di kancah global," ujarnya.Cris optimistis Indonesia mampu melakukan lompatan besar menuju masa depan ketenagakerjaan yang lebih unggul dengan memadukan jumlah tenaga kerja yang melimpah, semangat gotong royong, dan budaya belajar digital dengan kekuatan teknologi AI.
"Modal besar berupa jumlah tenaga kerja yang melimpah, semangat gotong royong, dan budaya belajar digital harus dipadukan secara apik dengan kekuatan teknologi AI," tegasnya.

















