VOICE Indonesia7 Tahun VOICEIndonesia.co
VOICE Indonesia7 Tahun VOICEIndonesia.co

7 Tahun VOICEIndonesia.co — bagikan kritik, saran, apresiasi, atau ucapan Anda!

Kirim Pesan
News

BGN Cari Formula Baru Beri Sanksi SPPG Nakal

S Nurafifa - VOICEIndonesia.coEditor: Redaksi2 menit baca
VOICE Indonesia di Google
kepala bgn
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono(Foto: Voiceindonesia.co/Ist)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus berulang di berbagai daerah ternyata masih ditangani dengan sanksi minim, sebatas penutupan dapur atau pemecatan pengelola. Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui pihaknya belum memiliki formula penindakan yang lebih tegas, meski pelanggaran waktu masak seperti yang terjadi di Papua dan Semarang berpotensi terus terulang.

Kepala BGN Sudaryono mengungkap insiden di Papua dan Semarang sama-sama dipicu oleh dapur yang mulai memasak jauh lebih awal dari ketentuan, sebuah pola pelanggaran disiplin yang menurutnya belum tersentuh sanksi memadai selama ini.

"Ini kan masalah kedisiplinan, nah ini kita lagi cari formula untuk mengawasi SPPG yang melanggar," kata Sudaryono dalam konferensi pers daring di Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Ia menegaskan BGN tidak akan segan melaporkan dapur ke polisi apabila terbukti ada unsur kesengajaan atau sabotase di balik insiden keracunan, bukan sekadar kelalaian administratif semata.

"Kalau ada ya kita serahkan semua, bukan kemudian kita tutup-tutupi atau kemudian kita bela, karena kalau salah, ngapain dibela," kata Sudaryono.

Sudaryono mengingatkan asas praduga tak bersalah tetap harus dikedepankan sebelum menjatuhkan sanksi, mengingat ada pula kasus keracunan yang justru dipicu makanan yang dibawa pulang siswa untuk dikonsumsi bersama keluarga di rumah, bukan murni kesalahan dapur penyedia.

Ia menjelaskan dalam kasus semacam itu, dapur sebenarnya sudah menjalankan seluruh prosedur dengan benar, mulai dari waktu masak hingga distribusi makanan ke siswa, namun makanan yang dibungkus dan dibawa pulang kemudian dikonsumsi keluarga lain sehingga korban keracunan meluas di luar siswa penerima MBG.

"Ini bagian dari PR kami, bagaimana mengedukasi," ucap Sudaryono.

Ketiadaan formula sanksi tegas ini mencuat di tengah pola pelanggaran yang seragam antardaerah. Di Papua, dapur MBG diketahui sudah mulai memasak sejak pukul 19.00 atau 19.30 malam sebelumnya, padahal makanan baru dibagikan keesokan harinya pukul 11.00. Pola serupa terjadi di Semarang, di mana dapur mulai memasak sejak pukul 21.00 malam.

Kasus di Papua sendiri bermula dari dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, usai mengonsumsi MBG pada Rabu (5/8) pagi. Delapan pasien yang sempat menjalani perawatan di RSUP Jayapura kini berangsur membaik, bahkan satu di antaranya telah diperbolehkan pulang.

Ringkasan AI

Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mencari formula baru untuk memberikan sanksi tegas kepada penyelenggara SPPG yang melanggar disiplin memasak, menyusul kasus keracunan makanan MBG di Papua dan Semarang. BGN juga menegaskan akan melaporkan ke polisi jika ditemukan unsur kesengajaan, sambil mengedukasi pengelola dan masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang.

Powered by Ajakin.id — AI Engine

Pilihan Redaksi

Begini Kisah Kru Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro Kembali ke Tanah Air Setelah Lintasi Selat HormuzPekerja Migran Indonesia

Begini Kisah Kru Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro Kembali ke Tanah Air Setelah Lintasi Selat Hormuz

Redaksi VOICE· 06 August 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.