VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor mengajak generasi muda memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas dan mempersiapkan kompetensi menghadapi perubahan dunia kerja.
Afriansyah mengatakan perkembangan AI, otomatisasi, dan teknologi digital telah mengubah pola kerja di berbagai sektor. Menurut dia, perubahan tersebut perlu direspons dengan peningkatan kompetensi dan kemampuan beradaptasi agar teknologi dapat menjadi peluang bagi generasi muda.
“Jangan takut pada AI, tapi jangan sampai tertinggal oleh AI. Jadikan teknologi sebagai alat pengganda produktivitas kalian,” kata Afriansyah saat memberikan kuliah umum di Universitas Batanghari, Jambi, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Afriansyah, kesiapan memasuki dunia kerja tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Kompetensi, karakter, serta kemauan untuk terus belajar juga menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan yang berlangsung cepat.
Ia menilai pembentukan kesiapan tersebut perlu dilakukan sejak generasi muda masih menempuh pendidikan. Terlebih, jumlah angkatan kerja nasional cukup besar dan tantangan ketenagakerjaan masih perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan data BPS Februari 2026, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang dengan tingkat pengangguran sebesar 4,68 persen. Sementara itu, sebanyak 19,44 persen pemuda berusia 15–24 tahun berada dalam kondisi NEET, yakni tidak bekerja, tidak sedang menempuh pendidikan, maupun mengikuti pelatihan.
Afriansyah juga mendorong generasi muda mengubah pola pikir dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja. Menurut dia, penguasaan kompetensi dan pemanfaatan teknologi dapat menjadi modal untuk menyelesaikan persoalan sekaligus menciptakan peluang baru.
Untuk mendukung peningkatan kompetensi generasi muda, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalankan sejumlah program, antara lain Pelatihan Vokasi Nasional (PVN), Program Magang Nasional (MagangHub), Talent and Innovation Hub (TIH) Pembinaan Talenta Vokasi Indonesia, serta pelatihan melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).
Afriansyah menilai peningkatan kompetensi juga membutuhkan keterhubungan antara pembelajaran di perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri. Kampus, kata dia, tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu membekali mahasiswa dengan karakter, kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan kewirausahaan.
Keterhubungan tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan media untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan yang mendukung kesiapan generasi muda.
Upaya tersebut sejalan dengan RPJMN 2025–2029 yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia adaptif dan berdaya saing global sebagai salah satu arah pembangunan. Generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk AI, untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengambil peran dalam perubahan dunia kerja dan pembangunan Indonesia. (af)



























