VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai praktik guru mencicipi makanan sebelum dibagikan ke siswa bukan jaminan keamanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan mengusulkan agar makanan dimasak serta disajikan langsung di kantin sekolah.
Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso menyampaikan usulan itu dalam media briefing, Jumat (11/9/2026), menanggapi kejadian keracunan yang berulang kali terjadi pada program MBG.
"Standar keamanan pangan itu sangat ketat dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," kata Piprim.
Menurutnya, dengan memasak MBG langsung di kantin sekolah, makanan yang disajikan akan lebih hangat dan segar saat dihidangkan. Konsep penyajian pun bisa disesuaikan dengan selera anak, misalnya dalam bentuk prasmanan, agar anak-anak lebih tertarik menghabiskan makanannya.
Piprim menyebut kejadian keracunan yang berulang mungkin dipandang sebagian orang hanya sebagai angka statistik, padahal setiap kejadian itu membuat orang tua korban sangat sedih. Ia menegaskan niat mulia memberi gizi kepada anak perlu dibarengi jaminan bahwa makanan yang dikonsumsi benar-benar aman dan memenuhi standar.
Ia pun merekomendasikan agar konsep MBG ditinjau ulang serta dievaluasi secara objektif dan menyeluruh.
Senada, Guru Besar sekaligus anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Damayanti Rusli, menyebut keracunan pangan disebabkan oleh dua faktor utama, yakni food-based hazard berupa paparan kimia atau fisik pada makanan seperti bakteri, jamur, cacing, dan pestisida.
"Yang kedua adalah si orang sendiri, orang tersebut yang menyebabkan hazardnya tadi. Jadi, bisa dari makanannya, bisa dari perilakunya untuk mengolah makanan," katanya.
Ia mencontohkan kesalahan itu bisa berupa mencampur makanan mentah dengan makanan yang sudah matang, kesalahan suhu penyimpanan, hingga bahan makanan yang kurang bersih saat dicuci.
Damayanti mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015 yang mencatat satu dari 10 orang di dunia pernah mengalami keracunan makanan, dan kondisi itu berpotensi berujung kematian.
"Siapa yang sangat sensitif terhadap keracunan tersebut? Satu adalah lansia, kemudian anak-anak di bawah 5 tahun. Kemudian orang-orang yang daya tahan tubuhnya rendah," katanya.
Ia mengingatkan risiko itu bakal semakin besar jika program MBG diperluas menyasar kelompok 3B, yakni bayi, balita, dan ibu hamil, mengingat kelompok tersebut termasuk paling rentan terhadap dampak keracunan pangan.



























