VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap pekat di wilayah Kalimantan terus menuai sorotan.
Di tengah krisis kualitas udara tersebut, gelombang keluhan warga membanjiri media sosial, melaporkan banyaknya balita dan bayi yang mengalami gangguan pernapasan serius hingga harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Fenomena ini mencuat bersamaan dengan permohonan maaf terbuka dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto.
Permohonan maaf tersebut disampaikan setelah pernyataan Suharyanto dalam rapat terbatas pada Rabu (23/9/2026) yang menyebut "roda kehidupan masyarakat berjalan normal" memicu kritik publik karena dinilai tidak mencerminkan kondisi riil warga terdampak.
Melalui akun Instagram resminya, Suharyanto mengklarifikasi maksud penggunaan kata "normal" tersebut dan mengakui bahwa dampak kabut asap masih sangat mengkhawatirkan.
“Saya memahami penggunaan kata 'normal' dapat menimbulkan persepsi seolah-olah kondisi masyarakat tidak terdampak. Untuk itu saya perlu meluruskan bahwa kondisi karhutla masih memerlukan penanganan serius dan pemerintah tidak menganggap persoalan ini telah selesai,” ungkap Suharyanto melalui akun @suharyanto_shr, Jumat (25/9/2026).
Suharyanto menjelaskan bahwa indikator "normal" yang ia maksud terbatas pada aktivitas dasar tertentu seperti lalu lintas darat, perdagangan, dan pelayanan publik yang masih berjalan. Namun, BNPB menyadari sektor lain seperti kesehatan, pendidikan, dan transportasi udara di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat mengalami gangguan parah.
Kondisi lapangan yang memprihatinkan juga dikeluhkan dari unggahan orang tua di media sosial. Salah satunya datang dari akun TikTok @rehanbesett asal Pontianak yang mengunggah kondisi bayinya.
“Batuk, pilek, sesak,” tulisnya pada Sabtu (26/9/2026).
Unggahan tersebut langsung disambut ratusan tanggapan dari para orang tua lain di wilayah Kalimantan yang menghadapi situasi serupa.
“Anakku habis keluar RS dan rawat jalan, pneumonia sampai berdarah gini, pakai air purifire midea diangka 400an, Palangkaraya,” tulis akun @ayu lashe.
“Babyku kak sampai masuk IGD, batuk pilek sesak nafas lokasi palangkaraya parah banget sudah level berbahaya,” tulis @lemonilov.
Beberapa warga lain juga melaporkan komplikasi kesehatan serius yang dialami anak-anak mereka akibat paparan asap berkepanjangan.
“Anakku kena radang paru gara-gara asap,” kata akun @teh aya.
“Anakku juga kak susah nafas batuk panas dalam sampai mimisan,” tambah akun @selly tya.
Disisi lain, pemerintah melalui BNPB menegaskan bahwa penanggulangan karhutla serta penanganan dampak kesehatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Penanganan intensif di lapangan akan terus dilakukan hingga kualitas udara dan kondisi lingkungan di seluruh wilayah terdampak benar-benar pulih. (af)



























