VOICEINDONESIA.CO, Surabaya – Prestasi membanggakan ditorehkan Maulana Rifky Yavianda, mahasiswa S-2 Manajemen Olahraga Universitas Negeri Surabaya (Unesa), di Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang. Atlet renang Indonesia itu membawa pulang empat medali, terdiri atas dua emas dan dua perak, sekaligus memecahkan rekor Asia nomor 100 meter gaya punggung S12 putra.
Rifky meraih medali emas pada nomor 100 meter gaya bebas S12 dan 100 meter gaya punggung S12 putra. Sementara dua medali perak diperolehnya dari nomor 100 meter gaya kupu-kupu S12 putra dan 50 meter gaya bebas S13 putra.
Pencapaian tersebut menjadi buah dari perjalanan panjang Rifky sebagai atlet. Di balik keberhasilan berdiri di podium tertinggi, ada proses seleksi, latihan intensif, serta perjuangan mengendalikan tekanan ketika berhadapan dengan para pesaing terbaik dari berbagai negara Asia.
Salah satu momen penting terjadi saat Rifky berlaga pada nomor 100 meter gaya punggung S12 putra di Nagoya City General Gymnasium. Ia mencatatkan waktu 1 menit 3,07 detik, sekaligus mempertajam rekor Asia sebelumnya, yakni 1 menit 3,46 detik yang dipegang perenang Jepang, Genki Saito, sejak Mei 2026.
Catatan waktu itu juga melampaui rekor Asian Para Games milik Rifky sendiri, yaitu 1 menit 3,55 detik yang dibukukannya di Hangzhou pada 2023.
Dalam perlombaan tersebut, Saito harus puas finis di posisi kedua dengan waktu 1 menit 3,76 detik. Sementara medali perunggu diraih perenang Uzbekistan, Dmitriy Khorlin, dengan catatan waktu 1 menit 5,77 detik.
Kemenangan di nomor gaya punggung itu sekaligus melengkapi medali emas yang lebih dulu diraih Rifky pada nomor 100 meter gaya bebas sehari sebelumnya.
Di balik hasil gemilang tersebut, Rifky mengaku sempat merasakan kegugupan saat menghadapi persaingan di Nagoya. Meski tim pelatih tidak secara khusus membebankan target medali emas, ia tetap memiliki target pribadi untuk memberikan hasil terbaik bagi Indonesia.
Keberadaan lawan-lawan tangguh di arena pertandingan sempat membuatnya merasa tegang. Namun, pengalaman itu menjadi pelajaran penting untuk mengelola tekanan dan menjaga konsentrasi ketika berlomba.
“Jujur, kalau berangkat dari sini sebenarnya target dari pelatih juga nggak ada. Untuk target diri sendiri itu ada. Cuma setelah sampai sini, lihat lawan-lawan, ya sempat deg-degan,” ujar Rifky, Senin (26/10).
Saat turun di nomor gaya punggung, ia berusaha lebih menikmati perlombaan dan memusatkan perhatian pada penampilannya sendiri. Alih-alih terbebani oleh hasil akhir, Rifky memilih fokus menjalankan strategi dan mengerahkan kemampuan terbaiknya.
Pendekatan tersebut membantunya tampil lebih rileks hingga mampu mencatatkan rekor Asia. Hasil itu pun menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan kualitas latihan dan mempertajam catatan waktunya.
Di balik empat medali yang dibawanya pulang, ada keluarga yang menjadi sumber kekuatan Rifky. Selama bertanding di Jepang, ia harus menahan rindu kepada istri dan anaknya yang baru berusia 10 bulan.
Keluarganya tidak dapat mendampingi secara langsung di Nagoya. Karena itu, komunikasi dilakukan melalui panggilan video untuk melepas rindu sekaligus menjaga kedekatan di tengah kesibukan mengikuti pertandingan.
Bagi Rifky, dukungan keluarga memiliki arti penting dalam perjalanan kariernya sebagai atlet. Ia pun mempersembahkan pencapaian di Asian Para Games 2026 kepada orang-orang terdekat yang terus mendukungnya. “Terutama ya istri dan anak saya, dan keluarga,” katanya.
Selain berstatus sebagai atlet nasional, Rifky juga menjalani pendidikan di program S-2 Manajemen Olahraga Unesa. Kesibukan di dunia olahraga tidak menghentikannya untuk terus mengembangkan diri melalui pendidikan.
Prestasinya di Nagoya menjadi bukti bahwa perjalanan akademik dan karier sebagai atlet dapat dijalani secara beriringan dengan disiplin dan komitmen.
Ke depan, Rifky berharap mampu memperbaiki catatan waktunya dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi internasional berikutnya, termasuk Paralimpiade Los Angeles.
Ia juga berpesan kepada atlet muda agar tidak mudah menyerah dalam mengejar prestasi. Menurutnya, hasil terbaik membutuhkan latihan yang konsisten, kerja keras, dan keyakinan. “Latihan sekeras mungkin. Jangan lupa berdoa. Usaha dan doa, nanti hasil Allah yang menentukan,” tutupnya.(joe)























