VOICE Indonesia7 Tahun VOICEIndonesia.co
VOICE Indonesia7 Tahun VOICEIndonesia.co

7 Tahun VOICEIndonesia.co — bagikan kritik, saran, apresiasi, atau ucapan Anda!

Kirim Pesan
Pekerja Migran Indonesia

Soroti Kebutuhan Industri, Pemerintah Tekankan Pentingnya Relevansi Lulusan Vokasi

Afifah - VOICEIndonesia.coEditor: Abdulloh Hilmi
VOICE Indonesia di Google
Dzulfikar Ahmad Tawalla
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla(Foto: dok./voiceindonesia.co/ist)

VOICEINDONESIA.CO, Banyumas – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertindak adaptif dalam menghadapi akselerasi perkembangan teknologi, pergeseran demografi, dan transformasi dunia kerja global.

Dalam kunjungannya di Banyumas, Jawa Tengah, pada Jumat (31/7/2026), Dzulfikar mengingatkan bahwa disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini datang beriringan dengan dinamika kependudukan yang menuntut lembaga pendidikan tinggi merespons dengan cepat.

"Belum selesai soal perubahan demografi, muncul soal Artificial Intelligence (AI)," kata Wamen Dzulfikar.

Dzulfikar menjelaskan bahwa lompatan teknologi telah secara fundamental mengubah lanskap industri serta peta kebutuhan kualifikasi tenaga kerja.

Ia memberi gambaran nyata melalui evolusi telepon seluler dari alat komunikasi sederhana menjadi pusat komputasi yang menyokong analisis keuangan hingga pekerjaan kompleks harian.

"Teknologi yang dimiliki selalu berkembang," katanya menegaskan tren percepatan tersebut.

Dampak efisiensi dan otomatisasi ini terasa langsung pada penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur dan industri modern.

Dzulfikar mencontohkan bahwa nilai investasi industri yang setara saat ini tidak lagi menyerap jumlah buruh sebanyak dua dekade lalu karena peran tenaga manusia telah banyak digantikan oleh mesin otomatis.

"Kalau 20 tahun lalu orang membangun pabrik dengan investasi 100 sampai 200 juta, kebutuhan tenaga kerja kurang lebih 5.000 orang. Hari ini, dengan jumlah investasi yang sama, kebutuhan tenaga kerja sebenarnya bisa setengah," katanya.

Meski demikian, di balik tantangan otomatisasi, perubahan demografi berupa krisis usia produktif di negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan justru memicu defisit tenaga kerja yang besar.

Menurut Dzulfikar, fenomena global ini menjadi peluang emas bagi pekerja migran Indonesia yang menguasai keahlian khusus dan berdaya saing.

Oleh sebab itu, perguruan tinggi memegang peran sentral untuk memoles mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga dibekali karakter, ketahanan moral, serta keterampilan teknis yang siap pakai.

Ia menekankan bahwa misi pendidikan sejati harus mencakup pembentukan akhlak dan kepedulian sosial di samping penguasaan teknologi semata.

"Siapa yang mampu mengubah orang yang awalnya tidak punya kompetensi menjadi orang yang punya kompetensi, maka sejatinya itulah manifestasi keberimanan," katanya.

Ringkasan AI

Wakil Menteri Dzulfikar menekankan perguruan tinggi harus adaptif menghadapi teknologi dan perubahan demografi dengan membekali mahasiswa keterampilan teknis serta karakter yang siap pakai. Ia menyoroti otomatisasi mengurangi kebutuhan tenaga kerja, namun krisis demografi di negara maju membuka peluang besar bagi pekerja migran Indonesia berdaya saing.

Powered by Ajakin.id — AI Engine

Pilihan Redaksi

Imigrasi Aceh Awasi 13 ABK Warga Negara AsingImigrasi

Imigrasi Aceh Awasi 13 ABK Warga Negara Asing

Afifah· 31 July 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.