VOICEINDONESIA.CO, Banyumas – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertindak adaptif dalam menghadapi akselerasi perkembangan teknologi, pergeseran demografi, dan transformasi dunia kerja global.
Dalam kunjungannya di Banyumas, Jawa Tengah, pada Jumat (31/7/2026), Dzulfikar mengingatkan bahwa disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini datang beriringan dengan dinamika kependudukan yang menuntut lembaga pendidikan tinggi merespons dengan cepat.
"Belum selesai soal perubahan demografi, muncul soal Artificial Intelligence (AI)," kata Wamen Dzulfikar.
Dzulfikar menjelaskan bahwa lompatan teknologi telah secara fundamental mengubah lanskap industri serta peta kebutuhan kualifikasi tenaga kerja.
Ia memberi gambaran nyata melalui evolusi telepon seluler dari alat komunikasi sederhana menjadi pusat komputasi yang menyokong analisis keuangan hingga pekerjaan kompleks harian.
"Teknologi yang dimiliki selalu berkembang," katanya menegaskan tren percepatan tersebut.
Dampak efisiensi dan otomatisasi ini terasa langsung pada penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur dan industri modern.
Dzulfikar mencontohkan bahwa nilai investasi industri yang setara saat ini tidak lagi menyerap jumlah buruh sebanyak dua dekade lalu karena peran tenaga manusia telah banyak digantikan oleh mesin otomatis.
"Kalau 20 tahun lalu orang membangun pabrik dengan investasi 100 sampai 200 juta, kebutuhan tenaga kerja kurang lebih 5.000 orang. Hari ini, dengan jumlah investasi yang sama, kebutuhan tenaga kerja sebenarnya bisa setengah," katanya.
Meski demikian, di balik tantangan otomatisasi, perubahan demografi berupa krisis usia produktif di negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan justru memicu defisit tenaga kerja yang besar.
Menurut Dzulfikar, fenomena global ini menjadi peluang emas bagi pekerja migran Indonesia yang menguasai keahlian khusus dan berdaya saing.
Oleh sebab itu, perguruan tinggi memegang peran sentral untuk memoles mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga dibekali karakter, ketahanan moral, serta keterampilan teknis yang siap pakai.
Ia menekankan bahwa misi pendidikan sejati harus mencakup pembentukan akhlak dan kepedulian sosial di samping penguasaan teknologi semata.
"Siapa yang mampu mengubah orang yang awalnya tidak punya kompetensi menjadi orang yang punya kompetensi, maka sejatinya itulah manifestasi keberimanan," katanya.


















