VOICEINDONESIA.CO, Demak – Limbah sekam padi yang selama ini hanya jadi sisa panen tak terpakai, ternyata bisa disulap menjadi bahan bakar alternatif bernilai ekonomi. Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Posko 93 memperkenalkan potensi ini kepada pemuda Karang Taruna Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, lewat sosialisasi dan praktik langsung pembuatan briket sekam padi.
Ketua Divisi Ekonomi Pembangunan KKN Posko 93, Danang Kusuma, menyebut kegiatan yang digelar di Gedung Serbaguna Desa Tlogoweru, Minggu (9/8/2026) malam, ini bertujuan membuka wawasan warga bahwa limbah sekam padi masih memiliki nilai guna jika diolah dengan tepat.
"Tujuannya supaya masyarakat tahu bahwa limbah sekam padi bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, salah satunya menjadi briket yang memiliki nilai guna dan nilai jual," ungkap Danang.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB ini tidak berhenti pada penyampaian materi semata, melainkan langsung mengajak peserta mempraktikkan tahapan pembuatan briket, dimulai dari membakar sekam padi hingga menjadi arang, lalu dihaluskan dan dicampur bahan perekat.
Dalam praktik tersebut, mahasiswa KKN menggunakan tepung tapioka sebagai bahan perekat utama, meski Danang menyebut ada alternatif lain yang bisa digunakan warga.
"Ini pakai tepung tapioka bisa, tepung sagu juga bisa," ujarnya.
Campuran arang sekam dan tepung kemudian dicetak sesuai bentuk yang diinginkan, sebelum dijemur beberapa hari hingga kadar airnya berkurang dan briket benar-benar kering serta siap digunakan sebagai bahan bakar.
Kesempatan praktik diberikan bergantian kepada seluruh peserta, membuat kegiatan berlangsung lebih interaktif dibanding sekadar penyampaian materi satu arah. Bagi sejumlah peserta, pengetahuan ini menjadi hal yang benar-benar baru.
"Dapat banyak pelajaran. Soalnya nggak pernah tahu kalau sekam padi bisa diolah," ujar Galang, salah satu peserta.
Sementara itu, peserta lain, Kingky, melihat briket sekam padi berpotensi menjadi alternatif bahan bakar warga setempat yang selama ini masih mengandalkan kayu bakar untuk berbagai keperluan.
"Kalau di sini biasanya bakar-bakar pakai kayu. Jadi ini bisa dicoba kalau mau bakar-bakar," ucapnya.
Meskipun kegiatan diikuti oleh peserta dalam jumlah terbatas, proses sosialisasi berjalan dengan adanya diskusi dan praktik langsung, sehingga peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai potensi sekam padi, tetapi juga mengetahui gambaran dasar proses mengubahnya menjadi briket.
Danang berharap pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut dapat diterapkan secara mandiri oleh para pemuda, sekaligus melihat pengolahan sekam padi sebagai salah satu peluang untuk memanfaatkan potensi limbah pertanian yang tersedia di lingkungan Desa Tlogoweru.
"Harapannya, setelah mengetahui cara pengolahannya, teman-teman Karang Taruna bisa mencoba membuat sendiri dan mengembangkan briket sekam padi menjadi produk yang bermanfaat serta memiliki nilai jual," ujar Danang.






















