VOICEINDONESIA.CO, Bogor – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai investasi domestik menjadi salah satu penopang ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menyebut realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai hampir Rp2.000 triliun dalam dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Anindya, kontribusi investasi domestik yang lebih dari separuh total investasi nasional menunjukkan peran penting pengusaha dalam negeri, termasuk pelaku usaha kelas menengah, terhadap perekonomian Indonesia.
“Kalau dilihat PMDN itu juga melibatkan teman-teman di kelas menengah. Nah ini kami lihat bisa membuat sekali lagi daya tahan kita justru semakin kuat,” ujar Anindya dalam laporannya pada acara Taklimat Presiden Republik Indonesia kepada Peserta Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia (P3MDI) Batch 1 Tahun Anggaran 2026 dan Peserta Rapimnas Kadin Seluruh Indonesia di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10/2026).
Anindya mengatakan, dunia usaha juga berkomitmen mengembangkan industri masa depan, selain memperkuat sektor industri yang telah berjalan.
Beberapa sektor yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan antara lain kendaraan listrik (electric vehicle/EV), energi terbarukan (renewable energy), dan pusat data (data center).
Ia menilai sektor-sektor tersebut memiliki potensi penggunaan komponen lokal yang dapat membuka peluang bagi industri dalam negeri.
“Bukan saja untuk industri-industri yang sekarang, tapi industri masa depan. Seperti industri EV, renewable energy, data center yang memang komponen lokalnya juga banyak. Bapak dan tentunya Pak Presiden, tema rapimnas kali ini adalah ekonomi kerakyatan dan Indonesia mendunia,” imbuh Anindya.
Selain investasi, Anindya menyoroti besarnya ruang kontribusi sektor swasta dalam perekonomian nasional.
Ia menyebut dunia usaha dapat berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas kesempatan usaha, serta menciptakan pengusaha baru yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
“Ekonomi kerakyatan sudah berjalan di dunia usaha. Kami menyadari dan ini merupakan tanggung jawab kami bahwa 4.000 triliun dari 25.000 triliun PDB adalah APBN. Sehingga sisanya atau sekitar 85 persen adalah uang yang dunia usaha bisa berkontribusi, dan inilah yang kita inginkan bukan hanya pengusaha-pengusaha daerah dan juga di asosiasi himpunan bisa tumbuh bersama-sama, naik kelas, tapi mereka juga bisa menjadi pemain besar kemudian hari,” ungkap Anindya.
Dalam kesempatan tersebut, Anindya juga menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global.
Ia menyebut Indonesia tetap menjadi salah satu titik terang perekonomian dunia atau bright spot, sebagaimana pernah disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF).
“Indonesia continues to be the bright spot. Ini telah disampaikan tahun lalu oleh IMF, dan terbukti bahwa Indonesia juga tetap menjadi bright spot. Di dalam lima guncangan ekonomi selama bisa dibilang 25 tahun, Indonesia adalah dari waktu ke waktu justru lebih kuat. Ini menandakan daya tahan kita sangat resilient,” ungkapnya.
Melalui penguatan investasi domestik, pengembangan industri masa depan, dan pemberdayaan pengusaha daerah, Kadin menyatakan komitmennya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional serta memperluas peran pengusaha Indonesia di pasar global. (af)























