VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) sebagai Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026-2031 ternyata membawa rekam jejak unik, memadukan tradisi keilmuan pesantren dengan pengalaman panjang di dunia maritim dan bisnis pelayaran.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, ini sebelumnya menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta serta menjalani praktik pelayaran di atas kapal-kapal niaga, sebelum meniti karier profesional di perusahaan pelayaran milik negara PT Djakarta Lloyd hingga dipercaya menjadi Kepala Cabang Cilegon pada 1988 saat berusia 30 tahun.
Pengamat Maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI Strategic Centre (ISC) Marcellus Hakeng Jayawibawa menilai pengalaman maritim tersebut merupakan modal kepemimpinan yang sangat bernilai dalam menakhodai PBNU.
"Pengalaman Gus Kikin sebagai pelaut dan pengelola usaha maritim menjadi kekuatan tersendiri bagi organisasi sebesar NU. Struktur NU yang membentang luas dari pesisir hingga pedalaman membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya berakar pada tradisi pesantren, tetapi juga memiliki keahlian manajerial modern serta kecakapan membaca dinamika lingkungan strategis," ujar Hakeng dalam keterangan yang diterima, Selasa (8/9/2026).
Ia menilai dunia pelayaran mengajarkan disiplin tinggi, penghargaan terhadap waktu, ketepatan membaca arah navigasi, keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian, serta kesadaran bahwa kapal hanya sampai ke tujuan jika seluruh awak bergerak dalam harmoni.
Hakeng menjabarkan kiprah Gus Kikin yang kemudian mendirikan perusahaan di bidang pelayaran, sebuah perjalanan yang memperlihatkan kemampuannya menggabungkan profesionalisme dengan kewirausahaan, akrab dengan tata kelola logistik, perdagangan, manajemen risiko, dan rantai pasok.
Ia menilai hal tersebut sangat relevan dengan kebutuhan NU memperkuat kemandirian ekonomi umat, mengingat sebagai negara kepulauan, Indonesia menyimpan potensi ekonomi biru yang sangat masif dan tidak boleh terus dipandang sekadar dari sudut pandang daratan.
"Gus Kikin memiliki kapasitas unik sebagai jembatan yang menghubungkan dunia pesantren, ekonomi umat, dan sektor maritim. Kehadiran ulama dengan latar belakang pelaut memberikan warna baru yang segar dalam kepemimpinan organisasi keagamaan," ujar Hakeng yang juga menjabat Dewan Pakar Pengurus Pusat Pemuda Katolik Republik Indonesia.
Hakeng menegaskan terpilihnya Gus Kikin harus dibaca sebagai momentum memperluas cakrawala pandang NU terhadap isu-isu kebangsaan yang lebih strategis, mengingat NU tidak hanya mengemban misi keagamaan dan sosial, tetapi juga memiliki tanggung jawab historis menjaga kedaulatan serta arah pembangunan nasional.
"Kita sangat menunggu peran aktif NU di bawah kepemimpinan Gus Kikin untuk memberikan warna positif dan arah baru bagi kebaikan bangsa Indonesia ke depan, khususnya dalam mempertegas kembali jati diri kita sebagai bangsa maritim yang kuat, mandiri, dan berdaya saing global," tegasnya.
Mantan nakhoda kapal super tanker ini turut memberikan analogi bahwa kepemimpinan PBNU serupa dengan mengemudikan kapal di samudra luas.
"Laut tidak selalu tenang. Ada gelombang, badai, dan perubahan arus. Seorang Nakhoda sejati harus mampu menjaga kapal tetap berada pada jalur pelayaran tanpa pernah kehilangan arah tujuan," tambahnya.
Ia optimistis pertemuan antara nilai-nilai spiritualitas pesantren dengan profesionalisme dunia maritim akan melahirkan kebijakan organisasi yang konkret, baik bagi warga Nahdliyin maupun masa depan Indonesia.
Atas amanah baru tersebut, Hakeng menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Gus Kikin, seraya berharap kepemimpinan baru PBNU dapat menggalang konsolidasi dan rekonsiliasi nasional guna menghimpun seluruh potensi umat demi kemajuan dan mewujudkan Indonesia sebagai bangsa maritim terbesar di dunia.



























