VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Hampir satu dari lima anak muda Indonesia usia 15–24 tahun berstatus NEET atau tidak bekerja, tidak sekolah, maupun mengikuti pelatihan, di tengah ajakan pemerintah agar generasi muda memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Februari 2026, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang dengan tingkat pengangguran 4,68 persen, sementara 19,44 persen pemuda usia 15–24 tahun berada dalam kondisi NEET.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menyebut tantangan itu semakin penting di tengah besarnya jumlah angkatan kerja nasional. Ia mengajak generasi muda memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempersiapkan kompetensi menghadapi perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat.
"Jangan takut pada AI, tapi jangan sampai tertinggal oleh AI. Jadikan teknologi sebagai alat pengganda produktivitas," kata Afriansyah dalam keterangannya di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Ia menyebut kemampuan yang dibutuhkan di dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh ijazah, melainkan juga kompetensi, karakter, dan kemauan untuk terus belajar, sehingga kesiapan menghadapi perubahan perlu dibangun sejak masih menempuh pendidikan.
Afriansyah turut mengajak generasi muda mengubah pola pikir dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta kerja, dengan penguasaan kompetensi dan teknologi sebagai modal untuk membuka peluang baru.
Untuk mendukung hal itu, Kemnaker menjalankan sejumlah program peningkatan kompetensi, di antaranya Pelatihan Vokasi Nasional, Magang Nasional (MagangHub), Talent and Innovation Hub (TIH) Pembinaan Talenta Vokasi Indonesia, serta pelatihan melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).
Afriansyah menilai kesiapan generasi muda juga perlu didukung keterhubungan antara pembelajaran di perguruan tinggi dan kebutuhan dunia industri.
"Kampus tidak hanya berperan dalam pengembangan ilmu, tetapi juga perlu membekali mahasiswa dengan karakter, kompetensi, kemampuan beradaptasi, dan kewirausahaan," ujarnya.
Ia menyebut keterhubungan tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, hingga media, sejalan dengan target RPJMN 2025–2029 dalam membangun sumber daya manusia yang adaptif dan berdaya saing global.



























