Baca Juga : Galang Dana untuk Korban Banjir, ILUNI UI Terima Rp 1 Miliar dari Ahmad Sahroni
Data untuk hunian itu juga akan digunakan Kementerian Sosial untuk menyalurkan bantuan tambahan berupa Rp3 juta untuk pengadaan isi rumah serta Rp5 juta untuk pemulihan ekonomi keluarga. Sementara untuk rumah rusak berat dan rumah yang hilang, pemerintah menyiapkan skema penggantian hunian melalui penyediaan hunian sementara maupun pemberian dana tunggu hunian. Tito menyebut pengumpulan data di Sumatera Barat dan Sumatera Utara sudah berjalan relatif cepat, sementara dari Aceh masih perlu percepatan. Dalam kondisi tertentu seperti di wilayah yang dokumen kependudukannya hilang akibat bencana, pemerintah menugaskan kepala kampung untuk mendata rumah rusak kemudian diverifikasi bupati dengan pendampingan Kapolres dan Kajari setempat. Skema pengumpulan data tersebut tidak harus menunggu lengkap seluruhnya dan dapat dilakukan secara bertahap. Data yang telah masuk dapat langsung diserahkan ke BNPB untuk diproses dan disalurkan. Baca Juga : Hampir Dua Pekan Berlalu Pascabencana Banjir Sumatera, Listrik Belum Pulih 100% "Kami sudah hitung dengan Pak Gubernur dan pak Wagub, 60 persen itu akan tidak ada di pengungsian," paparnya. Tito mencontohkan Kabupaten Tapanuli Selatan yang berhasil mempercepat penyaluran bantuan berkat ketersediaan data, sehingga jumlah pengungsi berkurang signifikan dari 21 ribu menjadi hanya tersisa 4 ribu pengungsi. "Uangnya sudah ada, problemnya hanya masalah data," pungkasnya. (Sin/Ah) Pilihan Redaksi : Mengawal Gerbang Negara: Analisis Mendalam Kewenangan Baru Imigrasi Pasca UU 63/2024


























