VOICE Indonesia
News

Pentingnya Pencegahan Sejak Dini Agar Karhutla Tak Jadi Kasus Tahunan

S Nurafifa - VOICEIndonesia.coEditor: Redaksi3 menit baca
VOICE Indonesia di Google
Upaya perlindungan masyarakat dari risiko kebakaran hutan dan paparan asap.
Upaya pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.(Foto: Dok. Ist)

VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra mengatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan kasus yang bisa terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, ia meminta agar pencegahan dilakukan sejak dini terhadap perilaku yang berpotensi memicu kebakaran menjadi hal yang tak boleh diabaikan

"Jangan lupa kasus ini adalah kasus tahunan. Jadi jangan sampai kita sibuk memadamkan apinya tanpa bisa mencegah sedari dini risiko terkait dengan musim dan juga perilaku yang mengarah kepada Karhutla ini," ujar Hermawan dilansir ANTARA, Senin (7/9/2026).

Ia menegaskan upaya kolaboratif harus ditingkatkan dalam menangani karhutla, dengan pencegahan dari sisi lingkungan yang bisa dilakukan seperti menghindari perilaku memicu kebakaran, misalnya tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak melakukan pembakaran sembarangan, maupun tidak membuka lahan dengan cara membakar, khususnya saat musim kemarau ketika kondisi lahan kering dan mudah terbakar.

Hermawan menekankan pencegahan juga membutuhkan kerja sama multipihak, tidak hanya lingkup kesehatan, melainkan juga dinas-dinas kehutanan, perkebunan, sosial, dan ketenagakerjaan.

"Makanya yang paling penting itu ya adalah kerja sama multipihak, multi stakeholders tidak hanya lingkungan kesehatan. Kesehatan ini cenderung menjadi dampak dan akhirnya terbebani," imbuhnya.

Dari sisi individu, Hermawan menyarankan masyarakat menghindari atau sementara waktu mengungsi dari wilayah terdampak karhutla untuk mencegah paparan asap.

Apabila kondisinya masih ada paparan asap, masyarakat disarankan menggunakan masker standar seperti N95 yang mampu menyaring udara secara efektif, membiasakan minum air putih agar suhu dan kelembapan badan terjaga, terutama saluran pernapasan.

"Juga senantiasa menggunakan pakaian yang tertutup ya kalau misalnya memang harus ada di luar rumah. Karena juga ini dampaknya terhadap risiko berbagai paparan yang bisa mengiritasi baik itu mata, juga yang terhirup dan bahkan bisa menimbulkan alergi untuk sebagian orang," ujar Hermawan.

Ia menjelaskan asap karhutla mengandung berbagai partikel hasil pembakaran, mulai dari jaringan lunak pohon dan dedaunan hingga plastik serta material lainnya, yang cukup berbahaya karena dapat membawa beragam zat masuk melalui saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru dan organ tubuh lainnya.

Hermawan menyebut paparan asap dapat memicu sejumlah gejala, seperti pusing, mual, iritasi, hingga sesak napas, dengan kondisi ini menjadi lebih berisiko bagi orang yang memiliki penyakit bawaan atau komorbid karena akan menstimulasi kerja keras jantung dan paru. Selain itu, kelompok seperti ibu hamil, lansia, anak-anak, dan bayi juga lebih berisiko terdampak.

Ia mengungkap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan kasus paling umum ditemukan akibat asap karhutla, yang turut berdampak terhadap penyakit paru lainnya seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), asma, dan gangguan lain.

"Layanan kesehatan yang paling penting tentu saja masker paling utama ya. Oksigen harus ada di setiap sentra pelayanan rescue, dan yang paling utama juga adanya kesiapsiagaan tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan sedari dini untuk daerah-daerah terdampak kabut dan asap itu," tutur Hermawan.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan memperkuat bantuan logistik, termasuk masker dan konsentrator oksigen, untuk merespons dampak karhutla terhadap 5,4 juta orang di tujuh provinsi. Sejumlah strategi yang diterapkan Kemenkes untuk merespons kejadian tersebut meliputi penggencaran edukasi dan promosi kesehatan, pemantauan penyakit seperti ISPA, pneumonia, asma, iritasi mata dan kulit, surveilans kualitas udara, penerbitan surat kewaspadaan, serta menyiagakan Public Safety Center, pos pelayanan kesehatan, rumah sakit rujukan, dan mobilisasi bantuan logistik.

Sebanyak tujuh provinsi telah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Ringkasan AI

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra mengatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan kasus yang bisa terjadi setiap tahun. Oleh karena itu, ia meminta agar pencegahan dilakukan sejak dini terhadap perilaku yang berpotensi memicu kebakaran menjadi hal yang tak boleh diabaikan "Jangan lupa kasus ini adalah kasus tahunan.

Powered by Ajakin.id — AI Engine

Pilihan Redaksi

Diduga Langgar Izin Tinggal, Paspor 55 WNA China DitahanImigrasi

Diduga Langgar Izin Tinggal, Paspor 55 WNA China Ditahan

S Nurafifa· 06 September 2026
Lihat berita ini di Google News
Ikuti VOICE Indonesia di Google News untuk update terbaru
Channel WhatsApp
Dapatkan Berita VOICE Indonesia Langsung di WhatsApp
Follow

⚠️ Hati-hati penipuan! Jurnalis VOICEIndonesia.co tidak menerima imbalan dalam bertugas. Laporkan ke Redaksi VOICEIndonesia.co jika Anda menemukan kejadian tersebut. Hotline 0811-809-073 atau email redaksi@voiceindonesia.co.

Baca Juga

Komentar (0)

Login dulu untuk meninggalkan komentar.