VOICEINDONESIA.CO, Jakarta – Kementerian Sosial (Kemensos) memobilisasi bantuan logistik senilai Rp4,52 miliar serta menyiapkan dana santunan bagi puluhan korban meninggal dunia dan luka-luka akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hingga Minggu (16/8/2026) pukul 09.00 WITA, laporan Basarnas dan BNPB mencatat bencana tersebut mengakibatkan 51 orang meninggal dunia, 110 orang luka-luka, dan memaksa lebih dari 5.000 jiwa mengungsi di berbagai titik penampungan darurat.
Mobilisasi logistik dikerahkan melalui Sentra Efata Kupang, Gudang Dinas Sosial Provinsi NTT, serta Gudang Pusat Kemensos di Bekasi. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menjelaskan komitmen pemerintah dalam penanganan darurat ini.
"Kami terus menyiapkan dan menggerakkan logistik untuk penanganan bencana di NTT. Di NTT ada dua gudang yang menjadi titik mobilisasi, yaitu Sentra Efata Kupang dan Gudang Dinas Sosial Provinsi NTT," kata dia.
Proses pengiriman bantuan dari Kupang sempat terkendala gelombang laut yang tinggi. Menyiasati hal tersebut, Kemensos mengambil langkah diskresi dengan menerapkan skema belanja langsung di lokasi bencana agar kebutuhan mendesak pengungsi segera terpenuhi.
Paket bantuan senilai Rp4,52 miliar tersebut mencakup makanan siap saji, tenda keluarga, kasur, selimut, perlengkapan anak dan dewasa, hingga tambahan pasokan beras reguler sebanyak 48 ton. Selain logistik, Kemensos menyiapkan alokasi anggaran khusus bagi para ahli waris korban jiwa.
"Untuk santunan korban jiwa, Kemensos akan memberikan tali asih kepada ahli waris sebesar Rp15 juta untuk setiap korban meninggal dunia. Kami meminta pemerintah daerah dan Dinas Sosial segera mendata dan melaporkannya kepada Kemensos supaya santunan bisa segera diberikan," ungkap nya menambahkan.
Sebagai langkah penanganan lanjutan di lapangan, Kemensos juga menurunkan personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan tim Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB) untuk mendirikan dapur umum lapangan, mendampingi evakuasi, serta mengawal penetapan status tanggap darurat bencana di wilayah terdampak.



























